Fakultas Kesehatan Masyarakat:
Kini dan Nanti *)
Yendris Krisno Syamruth, S.KM
Ting..ting...ting! Kira-kira demikian bunyi denting penunjuk waktu ketika menyentuh pukul 00.00 Wita, saat menunjukkan waktu tepat tanggal 14 Agustus 2005. Seiring dengan itu, tanpa terasa usia Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) telah memasuki jenjang waktu empat tahun yang mana dari sisi akademik telah siap memasuki tahap genting dalam masa transisi melahirkan Generasi Winslow Perdana (baca: S.KM) dari perut flobamora. Yah, sebuah perjalanan panjang yang boleh dikatakan penuh harmonisasi akademikal yang kita semua menjadi saksi-saksinya dalam turut memainkan peran dan fungsi ilmiah kita, dimulai dari awal berdirinya hingga saat ini siap ’melahirkan’.
Rentetan masalah kesehatan masyarakat baik secara lokal dan global telah menanti. Entah dengan jurus pamungkas apa mereka akan siap memberikan tantangan yang mau tidak mau--suka atau tidak suka, menuntut perhatian untuk sesegera mungkin menyelesaikannya. Diawali oleh (yang sempat terekam oleh penulis,-red) Kasus Sarkes, Formalin, Boraks, Malapraktek, Kinerja buruk pelayanan RSUD, TBC, HIV/AIDS, Rabies, Polio, Campak, KLB DBD dan Diare, hingga yang masih menghangat saat ini yakni Gizi Buruk dan Flu Burung. Sejauh apa peran dan fungsi kita selaku sivitas akademika dalam memperkuat barisan pemecah masalah kesehatan di negeri ini? Paling tidak, peran itu dapat saja hadir melalui diskusi-diskusi lepas yang telah dihadirkan selama ini dalam forum-forum ilmiah formal maupun non formal yang dapat membawa efek bagi pengambil kebijakan di aras lokal, dan dalam pemberitaan-pemberitaan pers lokal. Hemat saya, ke depan masih banyak yang mestinya kita (Sivitas Akademika) buat dari sekadar hal-hal itu.
Adalah sebuah prestasi yang cukup menggembirakan, jika saat ini kita dihadirkan pada suasana penantian kelahiran sarjana baru berselempang ungu ini, di tengah euforia kita memperingati dies natalis universitas dan fakultas. Kelahiran dan kehadiran Generasi Winslow ini telah lama dinantikan, yang mana dia mengemban cukup banyak harapan sebagian besar penghuni deretan pulau-pulau terselatan di negeri ini. Masih segar dalam ingatan, bagaimana posisi kita di tempatkan pada posisi terbawah dalam indikator pembangunan kesehatan menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2003. Sebut saja dari indikator Angka Kematian Ibu (MMR) mencapai 59 per 1000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi baru lahir (NMR) yang masih memegang posisi teratas di tingkat nasional yang mencapai 31 per 1000 kelahiran hidup, pada skala nasional rangking Human Development Index (HDI) juga di dua terbawah dari seluruh negara. Belum lagi indikator status gizi dan pendidikan. Ah, terasa sedih membayangkannya! Cukup banyak indikator-indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan yang sangat memiriskan hati, apalagi ketika statistik itu dibandingkan dengan kondisi kita. Bukankah ini sebuah tugas dan beban yang menjadi bagian tak terpisahkan dari perjuangan mulia S.KM-S.KM perdana ini? Amat berat, dan kalau boleh dikatakan perlu revolusi pola pikir dan daya kerja dalam diri semua komponen sumber daya sedini mungkin. Sekali lagi, sinergitas dan prinsip wawasan holistikal musti dipraktikkan pada konsep ini. Bukan hal mudah, mengapa? Untuk menuju kesepahaman akan hadirnya sinergitas dan wawasan holistikal dalam berfikir dan berkarya belum terasah dan masih tumpul. Perhatikan saja, sudah seberapa lebarkah sayap kerja sama telah dibangun oleh seluruh civitas akademika dengan stake holder terkait di daerah ini yang secara tidak langsung menajamkan akan pentingnya kehadiran seorang tenaga kesehatan bertitel S.KM? Sederhana saja, penulis mengatakan sayap itu telah ada, akan tetapi belum lebar dan belum sanggup untuk dikepakkan. Sebuah otokritik bagi yang merasa rindu akan hadirnya atmosfer yang lebih baik dalam institusi kita, saat ini dan ke depannya!
Rasa-rasanya tidaklah salah, apabila kita banyak berharap pada mereka, karena ambisi dan fungsi serta peran yang selama ini dikembangbiakkan dalam belantara kesehatan adanya kecenderungan fungsi dan posisi curative act yang pasif menunggu masalah kesehatan datang lebih diberikan porsi terbesar dibandingkan preventive act yang menjadi ’senjata pamungkas’ dari generasi yang akan lahir ini. Menafikkan peran mitra kita yang berjuang dengan senjata curative act-nya juga mustahil dan malahan menghantar kita untuk kembali terperosok ke dalam lingkaran setan berbagai permasalahan kesehatan. Kebersamaan dan kerjasama komplementer dilandasi etos kerja luhur dan tinggi, diyakini dapat mendobrak posisi tidak aman kita ke posisi aman dalam indikator kesehatan dalam lingkup nasional terlebih lebih pada level global. Pada sisi itulah Fakultas Kesehatan Masyarakat hadir melalui berbagai perangkat keras (hardware) dan lunaknya (software) turut memainkan peran dalam membekali mereka lebih banyak dan lebih siap. FKM yang masih muda dan kerangka bertumpunya disadari masih lentur dituntut dapat melahirkan, sudah harus membentuk barisan pewaris ilmu dan seni mencegah penyakit, pewaris ilmu dan seni memperpanjang usia harapan hidup, mengorganisir sumberdaya yang ada dalam masyarakat untuk mencapai upaya meningkatkan kesejahteraan lahir, bathin dan produktif secara sosial-ekonomi. FKM kini dengan kurang lebih 400-an komponen mahasiswanya, ditambah 30-an staff pengajar tetapnya, 20-an staf administrasinya merupakan modal yang cukup untuk tugas dan cita itu. Keragaman etnis, ilmu dan keahlian serta latarbelakang yang ada dalam diri civitas akademika, dimulai dari unsur mahasiswa hingga pucuk pimpinan adalah rahmat dan berkat tersendiri, yang oleh pakar manajemen disebutkan sebagai Modal. Dengan modal ini, menjadikan sinergitas fungsi dan kerja dalam era keterbukaan dan profesionalisme kerja pun menjadi bagian yang merupakan tuntutan dalam pengembangan institusi ini. FKM lahir dengan sumber daya-sumber daya itu. Empat tahun telah lewat dan kalau meminjam istilah kesehatan reproduksi FKM kini telah memasuki masa –masa antenatal yang sebentar lagi partus. Masa dimana seorang ibu memasuki tahapan kritis yang membutuhkan perhatian ekstra dari semua komponen agar partus dan persalinan berjalan normal dan aman melahirkan bayi sehat yang memiliki sel-sel unggul dan cerdas.
Pertanyaan mendasar yang akan lahir adalah seberapa siapkah institusi kita ini? Terlalu banggalah kalau dengan menutup mata akan kelemahan-kelemahan kita lantas menepuk dada dan menyatakan kita sudah mampu menyiapkan blue print semangat Mahaguru Winslow itu? Penulis (sebagai bagian dari sistem itu sendiri) dengan rendah hati dan jujur mengakui dan menyadari masih terdapat kelemahan-kelemahan yang jika disadari dapat menjadi modal awal untuk memperbaiki diri dan mengoreksi diri dalam rel benar menuju ke semangat awal tadi. Penulis menyadari, software dan hardware kita telah ada meski pada tataran brainware-nya masih minim. Bukankah kita secara bersama tidak akan tinggal diam dilibas ketertinggalan dalam segala aspek padahal daya dan upaya melawannya itu ada? Penulis pun tergelitik saat mendengarkan isi pidato yang disampaikan oleh adik-adik mahasiswa dalam rangkaian lomba di tingkat mahasiswa beberapa waktu lalu. Rasanya mendengar itu saja sudah cukup sebagai dasar pijak membangun semangat menajamkan arti hadirnya seorang Sarjana Kesehatan Masyarakat dalam tataran dan aras individu kemudian NTT bahkan Indonesia.
Ke depan diharapkan akan hadir SKM-SKM yang bukan saja memiliki multidimensi keahlian saja akan tetapi profesionalitas dan kespesialisasiannya dituntut. Seorang SKM dari Jurusan Epidemiologi dan Biostatistika misalnya, dia haruslah mampu menjadi seorang Epidemiolog dan Biostatistisian yang terampil dalam sistem dan manajemen surveilans dan sistem informasi kesehatan, atau seorang SKM dari Jurusan Kesehatan Lingkungan haruslah menjadi inspektor kesehatan lingkungan yang terampil dalam manajemen kesehatan lingkungan bahkan berhak memberikan lisensi yang berkaitan dengan kesehatan lingkungan institusi (semacam AMDAL). Hingga pada saatnya, ketika dihadapkan pada sebuah sistem kerja yang menuntut keahlian tertentu dengan sigapnya seorang SKM mampu melaksanakannya. Pengembangan ke arah itu merupakan mimpi panjang yang hadir dan menuntut kita semua untuk menghadapinya.
Saat ini, pembenahan kurikulum sebagai sebuah software sudah mulai dilakukan dengan harapan mampu membekali calon SKM dengan seperangkat kompetensi keahlian yang dapat link dengan kurikulum profesi nantinya (pasca SKM, ditambah 2 sampai 4 semester). Pada sisi hardware-nya pembenahan infrastruktur sarana dan prasarana penunjang kegiatan akademik sudah mulai dikembangkan dengan melibatkan Ikatan Keluarga Orang tua Mahasiswa (IKOMA) dan suntikkan dana hibah kompetisi dari Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) pada Jurusan Epidemiologi dan Biostatistika dan Jurusan PKIP, AKK, dan Gizi. Memang butuh dana yang cukup besar untuk sekaligus menyiapkan infrastruktur penunjang suasana akademis yang memadai. Sebagai penunjang dalam menyiapkan S.KM yang diharapkan dan cerdas serta kritis bagi individu, NTT, Indonesia, bahkan global. Angan-angan penulis sudah menerawang jauh bagaimana kelak ketika penulis pada suatu ketika dalam sebuah perjalanan dinas ataupun pribadi mengunjungi daerah di rangkaian pulau-pulau ini menjumpai seorang alumni FKM Undana yang mandiri dan berkinerja tinggi di medan layannya masing-masing. Entah dia seorang Kepala Puskesmaskah, Direktur RSUD, Karyawan LSM bonafide, Wirausahawan unggul, atau dapat saja seorang Direktur Yayasan berbasis kesehatan, apalagi jikalau dia bahkan seorang legislator ulung dan kawakan yang bukan saja anti Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) tetapi juga SADIS (Sangat Disiplin), dan tidak KUDIS (Kurang Disiplin) serta KURAP (Kurang Rapi). Harapan penulis, hal tersebut dapat saja terwujud.
Menutup tulisan ini, penulis saat ini hadir hanya untuk merefleksikan pemikiran yang sederhana dan dijiwai semangat yang rindu akan hadirnya sebuah susana harmonik yang dinamis di kalangan sivitas akademik sebagai bagian dari sistem pengembangan wawasan kesehatan masyarakat pemerintah pusat yang diterjemahkan pada situasi lokal Bumi Nusa Cendana. Sebagai penutup, sebagai pelengkap penantian yang proaktif, lirik syair lagu rilis terbaru bertitel ’Menanti Sebuah Jawaban’ dari Group Band ’Padi’ senafas dengan semangat penulis ini sengaja penulis kutipkan:
Setulusnya aku ingin memeluk’mu’,
mendekap penuh harapan tuk memiliki’mu’....
........sepenuhnya aku akan terus menunggu,
menanti sebuah jawaban tuk memiliki’mu’.....
*) Termuat di Media Bem FKM Undana tahun 2005
No comments:
Post a Comment