Thursday, September 27, 2007

Terkondisi atau dibiasakan?



Yeah.. kesal juga denganperilaku kayak begini (lihat image) knapa ya sedari kecil dah dikondisikan seperti itu.. malah aku berpikir itu mah bukan terkondisi tapi dibiasakan..
Alhasil lahirlah insan2 yang seenak udel mereka sendiri..

Gimana Global warming mau dibahs yang segini aja dulu deehh..

Monday, May 07, 2007

Opini NTT Pos Agustus 2006

Mewaspadai Pandemi Avian Influenza
Oleh: Yendris K. Syamruth *)

Tampaknya ‘perbendaharaan’ permasalahan penyakit dalam bidang kesehatan masyarakat di tanah air semakin hari semakin bertambah. Seiring dengan merebaknya berbagai kasus-kasus penyakit langka dewasa ini. Bahkan, tidak menutup peluang untuk mewabah di sekeliling kita. Salah satu kasus penyakit langka dan juga menyedot perhatian pemerintah pusat dan global, yaitu Avian Influenza (AI) atau lebih dikenal dengan “flu burung”. Meskipun menurut hemat penulis, istilah tersebut kurang tepat, karena mengkooptasi pemikiran bahwa hanya burung yang berisiko tertular dan sebagai penular. Padahal hewan ternak seperti unggas (bebek, ayam, itik, atau angsa) dan kucing serta babi juga merupakan inang perantara (host) dan resevoar virus ini.
Sebenarnya, AI bukanlah sebuah strain penyakit yang baru dijumpai akhir-akhir ini saja. Badan kesehatan dunia (WHO) telah melaporkan dapat mendeteksi penyakit ini sejak tahun 1955. Hanya saja, saat itu dugaan terbatas bahwa penyakit tersebut hanya menyerang unggas dan ayam (aves). WHO melaporkan kala itu AI di sebabkan oleh virus Influenza tipe A, dan yang berperan sebagai inang perantara (host) adalah bebek dan burung-burung liar yang lambat laun menulari unggas-unggas pada sentra-sentra pemeliharan ternak domestik. Hingga pada tahun 1959 mulai dideteksi telah mulai menulari manusia di Amerika Serikat dengan tipe Virus H2N2. AI ini mulai menjadi perhatian global kembali sejak tahun 1997 saat terjadi wabah AI di Hongkong dengan tipe virus H5N1 yang juga menyebar di kawasan Asia sekitarnya. Selanjutnya, dilaporkan pula mulai memasuki tanah air sejak 2003 dan mulai menghebohkan negeri kita pada Juni-Juli 2005 (kasus Tangerang) hingga saat ini. Menyikapi kenyataan ini, pemerintah pusat melalui Menteri Kesehatan (MENKES) mengeluarkan sebuah Surat Keputusan (SK) bernomor : 1371/MENKES/SK/IX/2005, yang menyatakan bahwa AI sebagai penyakit berpotensi wabah. Lalu, disusul kemudian dengan SK MENKES Nomor 1371 /MENKES/SK/IX/2005, dengan isinya antara lain, yakni penetapan AI sebagai KLB Nasional. Kekhawatiran akan ancaman yang selanjutnya lebih luas dan hebat inipun yang mendasari penulis untuk menurunkan tulisan ini.
Para ahli lintas sektoral, di antaranya para tenaga kesehatan, dokter/dokter ahli paru, dinas peternakan, dinas kesehatan, dan praktisi kesehatan masyarakat berlomba-lomba mencari solusi mencegah meluasnya persebaran dan penyebaran AI ini di negeri kita. Berbagai simposium dan seminar serta lokakakarya telah digelar. Dalam catatan penulis yang sempat terekam, seluruhnya mengerucut pada pentingnya sebuah kewaspadaan pada sebuah ancaman baru, yaitu kemungkinan terjadinya pandemi AI di negeri kita.
Beberapa literatur terkini menuliskan bahwa persebaran paling berisiko tinggi terjadi dan dimulai pada daerah-daerah dan wilayah peternakan unggas, salah satu sentra peternakan unggas. Sentra peternakan termasuk unggas negeri kita adalah Bumi Flobamora ini. Pada galibnyalah kita turut memikirkan dan mencari solusi mencegah persebaran AI ini. Para ahli memprediksi bahwa sepuluh hingga sebelas bulan ke depan penularan AI yang tadinya hanya dari ungas ke unggas dan atau unggas ke manusia dapat berubah pola dari manusia ke manusia (Claster). Prediksi ini semakin diyakini kebenarannya setelah diamati di laboratorium WHO di Hongkong (khususnya pada biakan virus) telah diidentifikasi terjadinya mutasi genetik pada virus ini, dari tipe virus yang awalnya menyerang pada tahun 1997 dan yang ditemukan pada tahun 2005 (Wulandari L., 2006). Ketika hal ini terjadi, maka ancaman terjadinya pandemi AI sangat sukar terbendung. Bagian Ilmu Penyakit Paru Fakultas Kedokteran (FK) Unair dan RSUD Dr. Soetomo Surabaya sebagai salah satu Rumah Sakit rujukan pelayananan pasien suspek AI Indonesia Timur pun mencatat hingga akhir Maret 2006 jumlah penderita terkonfirmasi di Indonesia telah mencapai 29 orang dengan 22 orang di antaranya telah meninggal dunia. Dilaporkan terakhir oleh media massa di bulan April telah ditemukan kasus yang lagi-lagi menelan satu korban di Semarang (Kompas,27 April 2006).
Diagnosa klinis AI sendiri terdiri atas empat tipe/kasus, yaitu: Penderita dalam penyelidikan, Kasus Possible AI, Kasus Probable AI, dan Kasus Terkonfirmasi (Confirmed). Adapun gejala-gejala yang menyertainya seperti demam dengan temperatur tubuh ≥ 380C, batuk, lemas, nyeri tenggorokan, perdarahan hidung dan gusi, sakit kepala, tidak ada nafsu makan, diare, dan sesak nafas. Gejala-gejala tersebut bervariasi dan tidak harus semua gejala ada, dapat berbeda dari orang ke orang. Virus ini menyebar melalui kotoran atau sekreta unggas, mencemari udara dan tangan penjamah. Jadi, kekhawatiran akan mengkonsumsi daging ayam dan atau burung yang telah dimasak matang dan baik dapat ditepis.
Sifat-sifat virus ini antara lain, yaitu dapat mati pada suhu 56oC selama 3 jam atau 60oC dalam 30 menit, hidup pada suhu sejuk, dalam air dengan suhu 220 C bertahan hingga 4 hari, dan pada temperatur 00C tahan sampai > 30 hari.
Merupakan sebuah realita di negeri kita, bahwa seringkali terjadi kesalahan persepsi dan deteksi akan masalah flu burung ini. Baik yang datangnya dari pihak peternak, terlebih dari pihak petugas itu sendiri. Masih banyaknya kesimpangsiuran akan deteksi unggas yang suspek mengidap AI menyebabkan kekaburan informasi dan pada akhirnya menimbulkan kerugian bagi peternak dan pedagang daging unggas. Misalnya saja, ketika suatu saat unggasnya ditemukan mati mendadak (mungkin saja akibat penyakit Tetelo,-pen) langsung diduga AI. Padahal, belum tentu kematian itu disebabkan oleh virus AI. Pemeriksaan laboratoriumlah yang dapat menentukkan apakah unggas tersebut mengandung virus H5N1. Kabarnya, pemerintah telah mengalokasikan alat deteksi cepat AI (diagnostic kit) bagi ternak suspek untuk dinas-dinas terkait. Harapan kita, peruntukkan dan pemanfaatannya tepat sasaran dan tepat fungsi.
Pengambil kebijakan pada level provinsi hingga daerah dari segala lintas sektor dituntut agar lebih jeli melihat dan mewaspadai pandemi ini. Perlunya surveilens yang baik dengan didukung adanya kesiapan regulasi dari pemerintah melalui satuan-satuan kerja semacam tim kerja (Task Force) sudah saatnya digagas, demi menangkal persebaran virus ini. Kalaupun hal ini telah difikirkan dan tinggal menunggu untuk direalisasikan, hendaknya dipastikan tidak sampai terlambat dan menunggu sampai ada warga yang menjadi korban. Tentunya, kita tidak akan mengulang kesedihan yang melanda Spanyol dan berbagai belahan dunia pada tahun 1918 yang merenggut korban hingga 40 juta jiwa melalui Pandemi Influenzanya kala itu.
Mewaspadai ancaman AI ini memerlukan langkah bijak yang oleh beberapa pakar kedokteran hewan dan paramedis pun setuju, yaitu perlunya perhatian akan “Regulasi dan Sekresi”. Regulasi, maksudnya perhatian dari pemerintah (policy-maker), dalam hal ini dinas dan instansi terkait, serta seluruh komponen masyarakat disertai pula perhatian pada Sekresi hewan-hewan unggas peliharaan kita, yaitu kotoran / tinja ternak unggas kita.
Pola hidup bersih dan sehat diyakini sebagai penangkal utama persebaran AI. Melalui kebersihan diri (personal hygiene), yaitu dengan selalu menggunakan sabun dan antiseptik ketika mencuci tangan dan peralatan makan, menghindari kontak dengan unggas tanpa Alat Pelindung Pribadi (APP), vaksinasi unggas serta mengkonsumsi makanan bergizi tinggi. Bagi penggemar daging unggas tidak perlu panik. Begitupun peternak dan masyarakat sekitarnya. Upaya preventif yang dapat dilakukan selain yang telah disebutkan terdahulu antara lain adalah pemberian vaksin pada peternak dan pekerja di bidang peternakan yang bersentuhan langsung dengan ternak. Biosecurity hewan ternak dan lingkungan dengan penyemprotan (desinfectan spraying). Isolasi dan depopulasi ternak tertular. Mengolah dan memasak dengan benar daging unggas untuk konsumsi pada temperatur ≥ 850C, konsumsi makanan kaya antioksidan, penyelenggaraan sistem surveilans flu burung di setiap wilayah, dan diseminasi informasi AI pada masyarakat awam, serta partisipasi aktif semua pihak. Penggunaan obat antiviral profilaksis yang dianjurkan semisal Oseltamivir (Tamiflu R) pada masyarakat/pasien terkonfirmasi dianjurkan oleh WHO. Nah, bagaimana dengan Flobamora? Seberapa siapkah Flobamora secara keseluruhan bergantung pada kewaspadaan setiap pribadi kita semua dahulu. Sudah siapkah Anda?

Brainstorming Gizi

GIZI BURUK :
Antara Kesadaran, Kompensasi, dan Resentralisasi )*

BAGAIKAN sebuah tamparan keras menghentak, ketika kasus gizi buruk (baca:busung lapar) yang sedang kita alami menjadi konsumsi publik di seluruh pelosok negeri ini. Yah, tamparan keras! Tamparan yang juga dirasakan oleh anda dan saya, bagi bapa, mama, kaka, adi, beta, lu, dan kitong apa dan dimanapun posisi kita. Mengapa? Di dalamnya tersirat ‘aib’ yang sukar untuk dilukiskan. Betapa tidak, negeri yang kaya dengan sumber daya ini, kaya dengan batu berwarna, kaya dengan ternaknya, harum mewangi dengan cendananya, memiliki ahli nanoteknologi, dan sederet kebanggaan lain yang jarang dan tak banyak dijumpai di belahan negeri ini, namun seakan dianggap tidak mampu menopang keberlangsungan kehidupan rakyatnya dalam satu pemenuhan elemen mendasar dalam hidup. Mendasar dan mendesak, pemenuhan dan ketersedian pangan yang adequate komposisinya. Media massalah yang pertama-tama mengeksposnya. Media massa, cetak maupun elektronik hampir setiap hari menjadikannya sebuah Head line. Bukan karena tanpa sebab, rasa penasaranlah yang mungkin menghinggapi benak insan pers kita, diikuti hasrat agar kasus ini dapat dengan cepat terselesaikan dengan penyadaran di semua lapisan masyarakat. Sebuah hasrat yang mestinya mendapat perhatian semua kita.

Pola Pikir dan Perilaku Masyarakat
Kesadaran dapat timbul dari interaksi dan pengaruh dari berbagai hal, di antaranya adalah pengalaman dan kebiasaan yang teradopsikan. Modal awal dari lahirnya sebuah kesadaran menurut ROGERS, seorang ahli perubahan perilaku adalah penerimaan, bila maknanya diperhalus berarti : keterbukaan diri terhadap inovasi. Nah, media penerimaan yang sesuai dalam konteks ini adalah komunikasi, informasi dan edukasi. Di antara ketiga unsur itu pendidikan lah yang sering menjadi pilihan favourite ketika sebuah studi/penelitian yang menggali sebab-akibat suatu masalah dilakukan. Berbagai kajian, studi, dan penelitian di bidang kesehatan masyarakatpun menunjukkan rendahnya strata pendidikan yang melatari timbul dan berkembangnya kasus masalah kesehatan. Sehingga, pada kesempatan lain acapkali variabel pendidikan ini adalah variabel yang tidak perlu diajukan lagi dalam sebuah studi, karena hampir dapat dipastikan jawabannya jelas dan pasti adalah pendidikan sebagai sebuah variabel determinan.
Perubahan pola pikir dan perilaku akan nampak pada sikap keterbukaan diri menerima pengalaman-pengalaman baru yang dengan bijaknya dipraktikkan, ditindaklanjuti, dan dibudayakan oleh masyarakat. Pada aras dasar masyarakat kita, penyampaian komponen-komponen pendidikan, informasi kesehatan, dan komunikasi-komunikasi kesehatan itu dibebankan kepada kader-kader Pos pelayanan Terpadu (Posyandu), yang dilaporkan saat ini lagi ‘mati suri’. Mati surinya Posyandu dan kader tidak lain yang menjadi faktor pemicunya adalah minimnya dukungan yang didapatkan sebagai imbas dan kompensasi dari pelaksanaan otonomi. Dengan kata lain ujung tombak perubahan perilakupun tenggelam dengan ketidakberdayaannya. Sangat ironis, ironis memang apalagi ketika kita simak pemberitaan media massa beberapa hari lalu yang memberitakan adanya rencana pemerintah pusat (baca: Menkes RI) yang ingin menarik wewenang dan delegasi kembali terhadap kewenangan pembiayaan dan pendanaan sektor kesehatan ke pusat (Re-Sentralisasi) yang beberapa tahun ini telah diujicobakan kepada pemerintah-pemerintah daerah. Pikiran awam saya menyatakan, hal ini pun adalah implikasi yang masih harus didebat. Bukankah kita seringkali harus belajar dari sebuah pengalaman pahit untuk mampu tangguh, mandiri, dan belajar, dibandingkan harus ‘disuapin’ terus oleh Jakarta?Dan bukankah ini menajamkan kembali kecenderungan kebijakan kepada bentuk penyeragaman yang melawan semangat pencarian jati diri, kemampuan kreatifitas dan kemandirian daerah?Memang mark up terjadi dimana-mana, akan teapi bukankah itupun juga terjadi ketika zaman desentralisasi yang notabene adalah karena ketidakmampuan dan disfungsalitas monitoring penyelengaraan proyek-proyek kesehatan kala itu?Anda dan saya memiliki pretensi bervariasi untuk mampu menjawabnya dan berharap ini baru sebatas wacana saja.
Pola pikir dan perilaku buruk dalam bidang gizi kesehatan masyarakat yang kerap terjadi diantaranya adalah dalam kebiasaan pemenuhan kebutuhan makan anggota rumah tangga yakni adanya kecenderungan masyarakat lebih mementingkan pemenuhan kebutuhan kepada sang bapak dan atau juga ibu dalam pembagian porsi dan komposisi bahan makanan, sementara sang anak disepelekan. Padahal komponen gizi dalam makanan bagi anak-anak dan balita sendiri bertujuan sebagai katalisator pertumbuhan, penyempurnaan fungsi-fungsi sel tubuh termasuk otak, jantung, hati, dan organ-organ tubuh lainnya. Sementara itu, untuk orang dewasa yang pada dasarnya hanya berguna dalam fungsi pemeliharaan jaringan tubuh kadang lebih diprioritaskan. Nah, sangatlah keliru bila porsi dan komposisi serta asupan orang dewasa lebih kita nomor satukan, dibandingkan untuk pemenuhan porsi, komposisi, dan asupan makan termasuk gizi bagi anak-anak dan atau balita kita nomor sepatukan. Pengamatan lain penulis masih dalam wilayah kita, yaitu pada beberapa kasus ada kecenderungan masyarakat memelihara ternak yang jumlahnya sedikit di areal rumah, bukan untuk menopang kebutuhan pangan keluarga dan asupan gizi balita, akan tetapi lebih ke arah pemenuhan kebutuhan lain yang sesungguhnya masih dapat ditunda, misalnya untuk menaikan ‘Gengsi’ dalam kegiatan sumbang-menyumbang untuk kepentingan-kepentingan kultural dalam sebuah kumpul-keluarga.
Biostatistika kasus gizi
Sebagai sebuah informasi awal kasus Gizi buruk yang terjadi di NTT telah menimpa lebih dari 1% balita (sekedar untuk diketahiu:Apabila prevalensi dan atau insidensi kasus gizi buruk menyentuh angka > 1% pada sebuah wilayah telah dapat golongkan wilayah tersebut status kesehatan masyarakatnya buruk dan kasus yang ada harus segera ditangani ( emergency). Kantor Dinas Kesehatan Provinsi NTT melalui pers dan penyiaran stasiun TV swasta menginformasikan bahwa 11,96 % atau 55.543 balita dari + 464.000 balita NTT telah mengalami kasus kekurangan gizi; 11.048 balita menunjukkan Gizi Buruk (2,37%) 241 balita mengalami marasmus,dan diberitakan pula telah menelan korban tujuh balita meninggal dunia (Pos Kupang 15 Juni 2005). Dari data tersebut, yang kita yakini bukanlah sebuah biostatistik kosong dapat kita interpretasikan sendiri dan juga dapat diramalkan ke beberapa tahun mendatang, apa yang akan terjadi pada dunia pendidikan kita. Hampir pasti, kembali dunia pendidikan akan mengelus dada ketika nilai-nilai UAS, UAN, dan SPMB naradidik kita menunjukan bobot dan nilai yang rendah dan jauh di bawah angka dan rata-rata nasional. Jangan heran apabila Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Indeks/HDI) kita jika dilakukan proses eleminisi kembali akan menempati posisi yang tidak aman atau dalam katagori terancam terdegradasi ke divisi rendahan, seperti pada kompetisi bola kaki, misalnya. Itulah kompensasi dari beribu implikasi yang mungkin timbul. Sebuah langkah mundur!


Arah dan harapan ke depan
Dalam tulisan lain saya yang telah pernah dimuat pada kolom opini di harian ini setahun lalu, hampir terbukti apa yang pernah saya takutkan akan sebuah Utopia kita menuju NTT dan atau Indonesia Sehat 2010 dalam kegelimangan kasus demi kasus kesehatan masyarakat kita, DBD di Kota dan Kabupaten Kupang yang mewabah, campak di Kabupaten Alor, rabies di Ngada dan Manggarai, rawan pangan karena gagal panen di tujuh Kabupaten, menjadikan usang dan lusuh semangat kita, demikian gambaran saya. Ke depan banyak yang dapat kita lakukan, akan tetapi di kekinian kita masih harus berbenah melalui sebuah penerimaan diri. Membuka diri akan setiap inovasi, masukan dan informasi, serta teladan-teladan baru dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Yang datangnya, mungkin saja dari mereka yang sedikit lebih dahulu tahu, ataukah lebih muda, dan mungkin juga adalah lawan politik kita dalam menyongsong Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) tahun ini. Bagi saya dan awam tentunya akan memilih pemimpin yang tidak tunarungu, tunadaksa, dan tunawicara dalam mereflesikan kompleksitas permasalahan kemasyarakatan yang mungkin saja saat ini lagi dipropagandakan lewat jalur dan mimbar-mimbar kampanye. Saya pun tergelitik dengan salah satu isi pesan singkat pada kolom Curhat yang mengajak para pemilih untuk memilih calon pemimpinya tidak BUSUNG DADA akan tetapi peduli pada masyarakat yang lagi BUSUNG LAPAR.
Aneka ragam inovasi baru pemenuhan kebutuhan pangan telah banyak disosialisasikan di antaranya penganekaragaman pangan pokok dari beras kepada bahan pangan subtitor (umbi dan ketela pohon), diversifikasi pertanian lahan kering, peternakan untuk kebutuhan keluarga, pembagian porsi makan yang adequate gizinya bagi kelompok umur riskan gizi kurang, serta teknologi pangan dan gizi lainnya yang menumpuk di taman baca dan perpustakaan-perpustakaan kantor,kampus dan dinas. Inovasi dapat saja lahir di perut bumi flobamora sendiri, inovasi baru agar kasus gagal panen tidak terulang, misalnya. Efek ikutan dari gagal panen di hampir seluruh kabupaten di NTT telah menanti yakni kekurangan ketersediaan pangan pokok, yang pada gilirannya kejadian busung lapar mungkin akan terjadi lagi. Penyelesaiannya bukan menjadi tanggungjawab dan tugas tunggal Kantor Dinas Kesehatan saja, akan tetapi merupakan tanggungjawab dan penyelesaian yang secara holistik dapat dilakukan oleh semua kita, termasuk anda dan saya dimanapun kita ada dan bekerja, kini dan esok. Teori ini telah lama dibumikan akan tetapi masih dan musti saja tidak mampu dipraktikkan. Entah apa penyebabnya?
Menutup tulisan ini, saya berharap sebuah rekomitmen dari semua lini. Sebuah komitmen yang disertai kesadaran kolektif (dan bukan kemampuan individu semata) yang mampu menguburkan kesadaran dan keniscayaan akan ketidakhadiranya sebuah civil society yang sehat sejahtera untuk setidak-tidaknya mampu memenuhi kebutuhan mendasarnya, yang sudah sejak dahulu kala didiseminasikan oleh Maslow dalam teorinya.


*) di tulis ketika issu gizi buruk di NTT dan Kupang mencuat Tahun 2005

Opini2 yang termuat di media

Fakultas Kesehatan Masyarakat:
Kini dan Nanti *)

Yendris Krisno Syamruth, S.KM


Ting..ting...ting! Kira-kira demikian bunyi denting penunjuk waktu ketika menyentuh pukul 00.00 Wita, saat menunjukkan waktu tepat tanggal 14 Agustus 2005. Seiring dengan itu, tanpa terasa usia Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) telah memasuki jenjang waktu empat tahun yang mana dari sisi akademik telah siap memasuki tahap genting dalam masa transisi melahirkan Generasi Winslow Perdana (baca: S.KM) dari perut flobamora. Yah, sebuah perjalanan panjang yang boleh dikatakan penuh harmonisasi akademikal yang kita semua menjadi saksi-saksinya dalam turut memainkan peran dan fungsi ilmiah kita, dimulai dari awal berdirinya hingga saat ini siap ’melahirkan’.
Rentetan masalah kesehatan masyarakat baik secara lokal dan global telah menanti. Entah dengan jurus pamungkas apa mereka akan siap memberikan tantangan yang mau tidak mau--suka atau tidak suka, menuntut perhatian untuk sesegera mungkin menyelesaikannya. Diawali oleh (yang sempat terekam oleh penulis,-red) Kasus Sarkes, Formalin, Boraks, Malapraktek, Kinerja buruk pelayanan RSUD, TBC, HIV/AIDS, Rabies, Polio, Campak, KLB DBD dan Diare, hingga yang masih menghangat saat ini yakni Gizi Buruk dan Flu Burung. Sejauh apa peran dan fungsi kita selaku sivitas akademika dalam memperkuat barisan pemecah masalah kesehatan di negeri ini? Paling tidak, peran itu dapat saja hadir melalui diskusi-diskusi lepas yang telah dihadirkan selama ini dalam forum-forum ilmiah formal maupun non formal yang dapat membawa efek bagi pengambil kebijakan di aras lokal, dan dalam pemberitaan-pemberitaan pers lokal. Hemat saya, ke depan masih banyak yang mestinya kita (Sivitas Akademika) buat dari sekadar hal-hal itu.
Adalah sebuah prestasi yang cukup menggembirakan, jika saat ini kita dihadirkan pada suasana penantian kelahiran sarjana baru berselempang ungu ini, di tengah euforia kita memperingati dies natalis universitas dan fakultas. Kelahiran dan kehadiran Generasi Winslow ini telah lama dinantikan, yang mana dia mengemban cukup banyak harapan sebagian besar penghuni deretan pulau-pulau terselatan di negeri ini. Masih segar dalam ingatan, bagaimana posisi kita di tempatkan pada posisi terbawah dalam indikator pembangunan kesehatan menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2003. Sebut saja dari indikator Angka Kematian Ibu (MMR) mencapai 59 per 1000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi baru lahir (NMR) yang masih memegang posisi teratas di tingkat nasional yang mencapai 31 per 1000 kelahiran hidup, pada skala nasional rangking Human Development Index (HDI) juga di dua terbawah dari seluruh negara. Belum lagi indikator status gizi dan pendidikan. Ah, terasa sedih membayangkannya! Cukup banyak indikator-indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan yang sangat memiriskan hati, apalagi ketika statistik itu dibandingkan dengan kondisi kita. Bukankah ini sebuah tugas dan beban yang menjadi bagian tak terpisahkan dari perjuangan mulia S.KM-S.KM perdana ini? Amat berat, dan kalau boleh dikatakan perlu revolusi pola pikir dan daya kerja dalam diri semua komponen sumber daya sedini mungkin. Sekali lagi, sinergitas dan prinsip wawasan holistikal musti dipraktikkan pada konsep ini. Bukan hal mudah, mengapa? Untuk menuju kesepahaman akan hadirnya sinergitas dan wawasan holistikal dalam berfikir dan berkarya belum terasah dan masih tumpul. Perhatikan saja, sudah seberapa lebarkah sayap kerja sama telah dibangun oleh seluruh civitas akademika dengan stake holder terkait di daerah ini yang secara tidak langsung menajamkan akan pentingnya kehadiran seorang tenaga kesehatan bertitel S.KM? Sederhana saja, penulis mengatakan sayap itu telah ada, akan tetapi belum lebar dan belum sanggup untuk dikepakkan. Sebuah otokritik bagi yang merasa rindu akan hadirnya atmosfer yang lebih baik dalam institusi kita, saat ini dan ke depannya!
Rasa-rasanya tidaklah salah, apabila kita banyak berharap pada mereka, karena ambisi dan fungsi serta peran yang selama ini dikembangbiakkan dalam belantara kesehatan adanya kecenderungan fungsi dan posisi curative act yang pasif menunggu masalah kesehatan datang lebih diberikan porsi terbesar dibandingkan preventive act yang menjadi ’senjata pamungkas’ dari generasi yang akan lahir ini. Menafikkan peran mitra kita yang berjuang dengan senjata curative act-nya juga mustahil dan malahan menghantar kita untuk kembali terperosok ke dalam lingkaran setan berbagai permasalahan kesehatan. Kebersamaan dan kerjasama komplementer dilandasi etos kerja luhur dan tinggi, diyakini dapat mendobrak posisi tidak aman kita ke posisi aman dalam indikator kesehatan dalam lingkup nasional terlebih lebih pada level global. Pada sisi itulah Fakultas Kesehatan Masyarakat hadir melalui berbagai perangkat keras (hardware) dan lunaknya (software) turut memainkan peran dalam membekali mereka lebih banyak dan lebih siap. FKM yang masih muda dan kerangka bertumpunya disadari masih lentur dituntut dapat melahirkan, sudah harus membentuk barisan pewaris ilmu dan seni mencegah penyakit, pewaris ilmu dan seni memperpanjang usia harapan hidup, mengorganisir sumberdaya yang ada dalam masyarakat untuk mencapai upaya meningkatkan kesejahteraan lahir, bathin dan produktif secara sosial-ekonomi. FKM kini dengan kurang lebih 400-an komponen mahasiswanya, ditambah 30-an staff pengajar tetapnya, 20-an staf administrasinya merupakan modal yang cukup untuk tugas dan cita itu. Keragaman etnis, ilmu dan keahlian serta latarbelakang yang ada dalam diri civitas akademika, dimulai dari unsur mahasiswa hingga pucuk pimpinan adalah rahmat dan berkat tersendiri, yang oleh pakar manajemen disebutkan sebagai Modal. Dengan modal ini, menjadikan sinergitas fungsi dan kerja dalam era keterbukaan dan profesionalisme kerja pun menjadi bagian yang merupakan tuntutan dalam pengembangan institusi ini. FKM lahir dengan sumber daya-sumber daya itu. Empat tahun telah lewat dan kalau meminjam istilah kesehatan reproduksi FKM kini telah memasuki masa –masa antenatal yang sebentar lagi partus. Masa dimana seorang ibu memasuki tahapan kritis yang membutuhkan perhatian ekstra dari semua komponen agar partus dan persalinan berjalan normal dan aman melahirkan bayi sehat yang memiliki sel-sel unggul dan cerdas.
Pertanyaan mendasar yang akan lahir adalah seberapa siapkah institusi kita ini? Terlalu banggalah kalau dengan menutup mata akan kelemahan-kelemahan kita lantas menepuk dada dan menyatakan kita sudah mampu menyiapkan blue print semangat Mahaguru Winslow itu? Penulis (sebagai bagian dari sistem itu sendiri) dengan rendah hati dan jujur mengakui dan menyadari masih terdapat kelemahan-kelemahan yang jika disadari dapat menjadi modal awal untuk memperbaiki diri dan mengoreksi diri dalam rel benar menuju ke semangat awal tadi. Penulis menyadari, software dan hardware kita telah ada meski pada tataran brainware-nya masih minim. Bukankah kita secara bersama tidak akan tinggal diam dilibas ketertinggalan dalam segala aspek padahal daya dan upaya melawannya itu ada? Penulis pun tergelitik saat mendengarkan isi pidato yang disampaikan oleh adik-adik mahasiswa dalam rangkaian lomba di tingkat mahasiswa beberapa waktu lalu. Rasanya mendengar itu saja sudah cukup sebagai dasar pijak membangun semangat menajamkan arti hadirnya seorang Sarjana Kesehatan Masyarakat dalam tataran dan aras individu kemudian NTT bahkan Indonesia.
Ke depan diharapkan akan hadir SKM-SKM yang bukan saja memiliki multidimensi keahlian saja akan tetapi profesionalitas dan kespesialisasiannya dituntut. Seorang SKM dari Jurusan Epidemiologi dan Biostatistika misalnya, dia haruslah mampu menjadi seorang Epidemiolog dan Biostatistisian yang terampil dalam sistem dan manajemen surveilans dan sistem informasi kesehatan, atau seorang SKM dari Jurusan Kesehatan Lingkungan haruslah menjadi inspektor kesehatan lingkungan yang terampil dalam manajemen kesehatan lingkungan bahkan berhak memberikan lisensi yang berkaitan dengan kesehatan lingkungan institusi (semacam AMDAL). Hingga pada saatnya, ketika dihadapkan pada sebuah sistem kerja yang menuntut keahlian tertentu dengan sigapnya seorang SKM mampu melaksanakannya. Pengembangan ke arah itu merupakan mimpi panjang yang hadir dan menuntut kita semua untuk menghadapinya.
Saat ini, pembenahan kurikulum sebagai sebuah software sudah mulai dilakukan dengan harapan mampu membekali calon SKM dengan seperangkat kompetensi keahlian yang dapat link dengan kurikulum profesi nantinya (pasca SKM, ditambah 2 sampai 4 semester). Pada sisi hardware-nya pembenahan infrastruktur sarana dan prasarana penunjang kegiatan akademik sudah mulai dikembangkan dengan melibatkan Ikatan Keluarga Orang tua Mahasiswa (IKOMA) dan suntikkan dana hibah kompetisi dari Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) pada Jurusan Epidemiologi dan Biostatistika dan Jurusan PKIP, AKK, dan Gizi. Memang butuh dana yang cukup besar untuk sekaligus menyiapkan infrastruktur penunjang suasana akademis yang memadai. Sebagai penunjang dalam menyiapkan S.KM yang diharapkan dan cerdas serta kritis bagi individu, NTT, Indonesia, bahkan global. Angan-angan penulis sudah menerawang jauh bagaimana kelak ketika penulis pada suatu ketika dalam sebuah perjalanan dinas ataupun pribadi mengunjungi daerah di rangkaian pulau-pulau ini menjumpai seorang alumni FKM Undana yang mandiri dan berkinerja tinggi di medan layannya masing-masing. Entah dia seorang Kepala Puskesmaskah, Direktur RSUD, Karyawan LSM bonafide, Wirausahawan unggul, atau dapat saja seorang Direktur Yayasan berbasis kesehatan, apalagi jikalau dia bahkan seorang legislator ulung dan kawakan yang bukan saja anti Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) tetapi juga SADIS (Sangat Disiplin), dan tidak KUDIS (Kurang Disiplin) serta KURAP (Kurang Rapi). Harapan penulis, hal tersebut dapat saja terwujud.
Menutup tulisan ini, penulis saat ini hadir hanya untuk merefleksikan pemikiran yang sederhana dan dijiwai semangat yang rindu akan hadirnya sebuah susana harmonik yang dinamis di kalangan sivitas akademik sebagai bagian dari sistem pengembangan wawasan kesehatan masyarakat pemerintah pusat yang diterjemahkan pada situasi lokal Bumi Nusa Cendana. Sebagai penutup, sebagai pelengkap penantian yang proaktif, lirik syair lagu rilis terbaru bertitel ’Menanti Sebuah Jawaban’ dari Group Band ’Padi’ senafas dengan semangat penulis ini sengaja penulis kutipkan:
Setulusnya aku ingin memeluk’mu’,
mendekap penuh harapan tuk memiliki’mu’....
........sepenuhnya aku akan terus menunggu,
menanti sebuah jawaban tuk memiliki’mu’.....



*) Termuat di Media Bem FKM Undana tahun 2005

Saturday, April 21, 2007

Aduuhhh akhirnya nongol lagi..

hmm...
akhirnya bisa nongol lagi..

karena upgrade bloggernya yang telat ku update infonya..
dan kesibukan menyusun proposal tesis..


Satu hal yang inginku share pada postinganku hari ini:

... bahagia itu kan benar-benar terasa kebahagiaannya
jika dan hanya jika bisa dinikmati oleh orang di sekitar kita....
mahluk di sekitar kita bahkan bukan mahluk sekalipun...


Bubay...

wuih... lama bangeettzzz jumpa lagi..

Aduh.... lama baru bisa online di blog ini...
karena oh karena:

1. sibuk dengan proposal tesis
2. ternyata ada pengalihan saham kepemilikan di blogger yang
lupa aku chek dan berkali2 gagal sign in...


hari ini akhir sukses...