Monday, November 11, 2013

OPINI Harian Victory News 19 Oktober 2013

PILIHLAH CALEG YANG SEHAT!
Oleh : Yendris K. Syamruth, S.KM., M.Kes *)

Hingar bingar pemilihan umum para anggota legislatif (PILEG) semakin hangat dengan telah ditetapkannya Daftar Calon Tetap oleh KPU beberapa waktu yang lalu. Ibaratnya, setiap kita telah menghadapi detik-detik adventus pesta demokrasi. Kehangatan pesta itu membuncah menyisakan sebuah pertanyaan cukup menegangkan, yakni bagaimanakah mereka dan siapakah mereka yang berhasil menduduki ‘kursi panas’ dan berhak mewakili rakyat dengan berbagai levelnya di negeri/daerah ini kelak? Pelabelan diri tak urung menampak di berbagai sudut dan ruang publik, mulai dari laman (website) pribadi, account sosial media, hingga ke baliho di jalan-jalan dan lembaran koran ataupun majalah. Yang terkini pemain Timans PSSI U-19 pun terjebak ke pusaran ini. Semua berlomba menahbiskan diri menjadi penyambung lidah rakyat yang tepat dan layak. Tidak ada yang salah, dalam hal ini dikenal sebagai sosialisasi diri dalam skema pemilu kita. Sayangnya, gong sosialisasi ini berbunyi tidak serempak dan yang memukulnyapun tak jelas dari arah mana. Alhasil ada yang dicap mencuri start dan adapula yang dilabel sebagai caleg pohon. Kebermaknaan pelabelan terkesan amburadul dan diserahkan kepada publik dan tim sukses untuk menafsir sesuka hati, pada tataran ini kebersihan dan kenyamanan ruang publik serta merta terganggu. Dengan kata lain wasit dan pemain sama-sama bermain sesuka hati dan dengan kostum yang tidak jelas. Padahal  UU No 8/2012 dan juga Per KPU No.6/2013 telah menyatakan hal-hal ini (tahapan dan pijakan teknis) dengan jelas.
Tidak salah jika poster, sticker, dan baliho (banner), baik dalam ukuran kecil hingga berukuran raksasa tersaji menyemarakan suasana penuh aroma kompetisi ini, yang serta merta menimbulkan sebuah persepsi baru di tengah situasi penuh dengan janji dan aroma kompetisi, yaitu persepsi akan seronoknya kota dan daerah dari pusat hingga daerah. Apalagi di tengah hiruk pikuknya upaya penggalangan partisipasi massa untuk kegiatan bersih-bersih. Ironis dan patut dilakukan tindakan yang tepat. Apakah demokrasi negeri ini harus menafikkan kenyamanan dan keelokkannya?
            Sebagai konsumen pemilu (pilkada, pileg, dan pilpres) kita seharusnya menyadari bahwa mekanisme pemilu dan atau sejenisnya harus didudukkan kepada pemenuhan kebutuhan publik yang seluas-luasnya di atas kepentingan sesaat apalagi pribadi. Ruang interpretasi ini akan melebar, multi tafsir, dan absurd manakala sosialisasi dan penindakan dari pihak terkait hanya sebatas kepada ‘teriakan’ dan repressif semu apalagi parsial. Dimanakah peran pemerintah sebagai penanggungjawab umum keelokkan (=baca kebersihan dan kenyamanan) kota dan atau daerah?
            Demokrasi tidaklah harus menyepelekan kebersihan ruang publik, apalagi menjadikannya ruang dengan aneka tafsir orang per orang. Lebih rinci lagi, apakah Peraturan KPU Nomor 15 Tahun 2013 yang efektif sejak 27 September 2013 kurang jelas dan perlu diterjemahkan ulang? Di sana disebutkan dengan jelas aturan dan tata kelola pemanfaatan ruang publik untuk alat peraga kampanye kontestan dan caleg (http://www.kpu.go.id).
Terlepas dari itu, penulis mengajak kepada semua konsumen politik dalam pemilu untuk benar-benar mewaspadai ‘menu-menu’ yang disodorkan para kontestan dan caleg sajikan kepada kita. Benarkah menu makanan mereka tidak kadaluarsa dan benar-benar sehat?
Dari sisi konsumen politik kita wajib tahu apa komposisi dari menu/isu yang disajikan, agar tidak salah dalam indikasinya dan salah olah serta salah makan dan berakibat penyesalan panjang. Isu yang seringkali digunakan adalah kesehatan gratis, sebuah isu yang sejatinya meninabobokan masyarakat dalam sebuah pelabelan politis, indikasi yang dijumpai bahwa sesungguhnya masyarakat di beberapa daerah sanggup untuk mengeluarkan biaya yang jauh lebih tinggi pada non kesehatan yang cenderung berisiko bagi kesehatannya dibanding komponen biaya perawatan diri dan kesehatan. Dari laporan District Health Account (DHA) Kota Kupang misalnya, di sana disebutkan bahwa porsi kemampuan masyarakat sluruh Kota Kupang untuk konsumsi di luar kesehatan semisal pulsa, rokok, sirih pinang, dan kegiatan lain non esensial jauh lebih besar (6, 96%) dari porsi untuk membiayai kesehatannya (3,17%) dari total pengeluaran rumah tangga setahun yang mencapai 4,69 triliun rupiah (Laporan DHA Kota Kupang-Dinkes Kota Kupang, 2012). Kondisi serupa untuk 7 kabupaten lainnya yang dijadikan lokasi DHA di NTT. Jadi, kesehatan gratis bukanlah menu sehat dalam panggung politik. Bandingkan dengan isu kesehatan murah, di sana tanggungjawab personal masyarakat dalam membiayai kesehatan diri yang esensial tetap ada. 
Menu lain yang perlu dicermati adalah penindasan para caleg pada keberlangsungan pohon-pohon peneduh dan penyerap karbondioksida. Entah apa yang hadir dalam pikiran para konsumen/konstituen yang mau memilih para caleg yang jelas-jelas egois dan berjiwa penindas? Inilah yang disebut menikmati menu yang berisiko tinggi. Ya, egois karena zona alat peraga kampanye tersebar sesuka hati dan menafikkan kepentingan publik lain, penindas karena pohon-pohon peneduh dijadikan media untuk promosi diri tanpa tahu pohon yang digunakan merana dan tak kuasa menolak (kontradiksi dengan Pasal 17 Peraturan KPU Nomor 15 Tahun 2013) .
Konsumen pemilu dan juga demokrasi sudah saatnya sehat dalam memilih caleg yang sehat, karena sejatinya defenisi sehat yang tepat adalah bukan saja terbebas dari sakit dan penyakit, melainkan menurut Undang-undang Kesehatan No. 36 Tahun 2009 Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
1) 
Sehat secara ekonomi, diartikan bahwa seorang ( misal: caleg) yang sudah produktif (dewasa) haruslah memiliki kegiatan yang dapat menghasilkan dan menyokong kehidupannya maupun kehidupan keluarganya secara finansial. Untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Maka dari itu perbaikan status ekonomi sangat berpengaruh dalam peningkatan kesehatan seseorang utamanya dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang cukup.
2) 
Sehat secara sosial, berkaitan tentang hubungan seseorang terhadap orang sekitarnya secara baik tanpa perbedaan ras, suku, kepercayaan, status sosial dan sebagainya. Caleg  yang tidak berhubungan atau berkomunikasi dengan orang dan masyarakat sekitar dengan baik akan mendapatkan tingkat stress yang lebih tinggi dibandingkan Caleg-caleg yang berkomunikasi dengan orang lain.
3) S
ehat secara spiritual,  tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana ini, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa. Misalnya sehat spiritual dapat dilihat dari praktik keagamaan si caleg. Dengan perkataan lain, sehat spiritual adalah keadaan dimana seseorang menjalankan ibadah dan semua aturan-aturan agama yang dianutnya.

Jadi, sehat bukan hanya digambarkan melalui diri kita yang tidak terkena penyakit atau tidak cacat, akan tetapi sehat itu ditinjau dari berbagai aspek yang dapat mendukung daripada kesehatan itu sendiri, seperti ekonomi, sosial, dan spiritualnya. Apakah kita telah bijaksana memilih caleg yang benar-benar sehat?
Ataukah kita masih terjebak pada propaganda para caleg yang sejatinya sakit, egois, bahkan penindas?

Menu dan isu sehat yang bagaimanakah yang sejatinya perlu ditawarkan oleh para caleg adalah pemahamannya akan makna skema anggaran kesehatan yang diamanatkan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 (tentang Kesehatan). Jika para caleg paham akan anggaran kesehatan bukan tidak mungkin mereka akan fokus pada perjuangan anggaran yang pro kesehatan. Bukankah kita sama-sama bersepakat untuk hidup sejahtera harus sehat lebih dahulu? Bukankah sehat itu makin terasa mahal ketika kita telah jatuh sakit? Bukankah jika anda dimusuhi konstituen, ditolak di daerah pemilihan, dicueki, dan disangkakan koruptor adalah ciri sejati bahwa Anda sedang ‘sakit’?

Banyak hal yang harus diketahui oleh para caleg,  dan masih ada waktu panjang untuk membekali serta merubah diri (dan tim suksesnya pula), banyak persoalan masyarakat yang menjadi tanggungjawab kita, salah satunya adalah kesehatan, anda pun harus sehat agar mampu menerjemahkan kehendak dan kebutuhan konstituen. Kepada para konsumen demokrasi dan konstituen bijaksanalah dalam memilih dengan kata lain sehatlah dalam memilih, pilihlah caleg yang sehat dan jangan memilih orang-orang sakit. Sekali lagi jika Caleg sehat dapat dipastikan produk legislasi yang dihasilkan sehat dan tidak kadaluarsa apalagi mematikan.

Opini Harian Timor Express 22 Oktober 2013

PERDA NYAMUK, DIMANA SENGATMU?
(Sebuah Refleksi Jelang Hari Kesehatan Nasional 2013)
Oleh: Yendris K. Syamruth, S.KM., M.Kes *)

Tanpa terasa delapan tahun sudah usia Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 tahun 2005 tentang pengendalian nyamuk di NTT, yang lebih santer disebut Perda Nyamuk. Namun apakah seluruh komponen masyarakat benar mengetahui dan secara sadar mengimplementasikannya? Atau bahkan oleh karena ketidaktahuanlah yang menjadi pemicu kemacetan implementasi Perda tentang pengendalian nyamuk ini?  Sebuah tanya yang menjadi kegelisahan bersama saat ini. Entah sudah berapa lama nyamuk menjadi pokok pembicaran dan permasalahan menghangat di ruang-ruang rapat dan seminar, hotel berbintang (termasuk akomodasi dan transportasinya) dari pusat hingga daerah, dari Senayan hingga Eltari. Melihat kondisi demikian, terlintas kembali dalam ingatan kita akan ujaran bernada hiperbolik berasal dari Mantan Presiden ke-4 RI yakni Bapak Gusdur tentang sudah banyaknya tumpukkan laporan, skripsi, tesis, disertasi, rekomendasi seminar/rapat/bimtek dengan bukti-bukti pertanggungjawaban kegiatannya yang jika disusun dapat sampai ke langit, padahal hanya berbicara seputar masalah yang sama, tidak menyelesaikan dan kembali hadir setiap saat. Demikian halnya tentang nyamuk, selalu dianggap luarbiasa dalam program-program, tetapi melempem pada tataran aksi hingga ke level bawah (masyarakat), belum lagi penanganan yang seringkali terjadi parsial/per wilayah. Ada sisi pada level bersama yang merenggang dan menipis.
Kewaspadaan komunitas dan kewaspadaan kelompok perlu disadari memegang andil yang cukup besar demi upaya pengendalian nyamuk malaria dan ikutan-ikutannya. Pengendalian nyamuk bukan tugas dan tanggungjawab kementerian kesehatan semata, namun harus disadari menjadi tanggungjawab kolegial kita semua. Bukan hanya tanggungjawab perguruan tinggi kesehatan, dinas-dinas, petugas-petugas kesehatan, melainkan bersama. Anda dan saya, tua-muda, kaya-miskin, antar suku, ras dan golongan bahkan agama. Semua memiliki andil. Nyamuk dan efeknya yang berisiko bagi kemaslhatan bersama adalah harus dijadikan musuh bersama. Banyak korban telah berjatuhan, kerugian demi kerugian datang, tetapi publik selalu terlena pada persoalan yang sama yaitu bergerak hanya saat ada keluarga inti yang sakit dan menjadi korban. Ini yang sering kali terjadi, waspada jika sakit menimpa.  
 Perlu juga menjadi catatan awam, kerugian akibat sakit oleh karena gigitan nyamuk cukup besar, bukan hanya pada kelompok masyarakat kebanyakan, melainkan juga pada kalangan ibu-ibu hamil tak luput dari sengatannya, dan hal tersebut berkorelasi dengan angka kematian ibu serta janin. Tercatat oleh berbagai penelitian bahwa malaria berisiko tiga kali lipat menyebabkan keguguran ibu hamil (Petro, 2012). Bagaimana bisa?padahal di sisi lain Revolusi KIA sedang gencar-gencarnya digalakkan. Malaria menyebabkan anemia atau kekurangan darah. Plasmodium malaria membuat sel-sel darah merah pada ibu hamil banyak yang hancur. Hal itu membuat efek malaria sangat berbahaya pada 3 bulan pertama kehamilan, anemia akibat malaria juga dapat menyebabkan pertumbuhan janin kurang baik. Karena itu, deteksi dini pada wanita hamil serta pengobatan yang efektif sangat penting untuk mengurangi risiko itu.
Berdasarkan data yang dilaporkan di kementerian terkait, hampir setiap bulannya di negeri kita ada 100 kasus kematian bayi, ibu dan balita, diasumsikan bahwa malaria turut berperan dalam hal ini. McGready (2011) dan timnya menemukan bahwa malaria asimtomatik atau yang tidak menunjukkan gejala nyata berkaitan dengan risiko keguguran tiga kali lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak mengalami malaria. Bahkan, risiko keguguran pada ibu hamil dengan gejala malaria cenderung sampai empat kali lebih besar. Risiko ini sama di antara perempuan dengan malaria vivax dan falsiparum pada pemeriksaan darahnya. Demikian pun di NTT, angka kejadian malaria pada ibu hamil menunjukkan progres yang berarti dan memerlukan perhatian. Di lain pihak, kasus-kasus Demam berdarah dengue (DBD) dan filaria juga dengan nyamuk sebagai vektor tular cukup menyita perhatian publik dalam delapan tahun belakangan ini, entah pernahkah kita berpikir berapa kerugian yang ditimbulkan secara materil dan immateril oleh nyamuk.
Menjadi menggelitik benak kita di satu sisi malaria, filaria, dan DBD disadari cukup merugikan secara sosial dan ekonomi, tetapi di lain pihak kehadiran Perda Nyamuk (termasuk pengendaliannya) belum sesignifikan dari harapan para pendahulu yang merasakan ‘kegelisahan’ ini? Dimanakah sengat Perda ini? Delapan tahun hadir namun belum signifikan mengatur dan mengendalikan si-nyamuk dan ikutannya. 
Kita boleh menyimak isi dari Perda ini lebih terperinci agar menjadi perhatian bersama kembali. Perda ini seakan pedang yang tumpul di tengah-tengah timbunan persoalan yang selalu saja hadir. Sengatan yang diharapkan hadir belum mampu ditegakkan karena diperhadapkan pada seabrek masalah, seperti siapa yang diserahi tugas  menjadi ‘polisi’ penegak dan hakim yang adil bagi pelanggar perda ini, seberapa repressifnya aturan dan sanksi-sanksi dalam perda ini di mata publik, kebermaknaan pada dipatuhinya perda oleh individu dan atau komunitas pada tataran pelaksanaannya.
Perda hadir untuk mengatur dan memberi makna bagi lingkungan masyarakat, perda nyamuk harus memberi sengatan-sengatan bermakna bagi masyarakat melalui penerapannya secara massif dan berkelanjutan, jika hal ini diabaikan betapa bergandanya kerugian-kerugian publik dalam peristiwa semacam ini. Ya, kerugian berganda karena penyusunan dan pengesahannya dari tataran program hingga masuk dalam bahan serta proses legislasi di dewan bukan hal yang murah dan mudah, dan hal ini menyita pikiran, waktu, tenaga, bahkan air mata. Apakah pengorbanan dalam menyusun Perda yang dimunajatkan dapat mengendalikan nyamuk harus dianggap sia-sia dan tak ber’sengat’? Betapa meruginya publik, jika Perda ini harus dibatalkan oleh MK misalnya, kerugian berlipatkaliganda. Data terakhir ada 4.000 perda seluruh Indonesia dibatalkan oleh MK, dengan beraneka landasan pijak, yang bisa jadi adalah kebermaknaannya dalam implementasi, signifikansi dengan persoalan masyarakat, dan potensi keberlanjutannya diragukan.
Menutup tulisan ini, saya mengajak semua pihak untuk kembali merefleksikan posisi dan peran bersama meninggikan kebermaknaan dari Perda ini melalui tindakan-tindakan pengendalian risiko akibat gigitan nyamuk, dengan selalu mewaspadai dan merawat lingkungan sekitar, saling mengingatkan agar sengatan nyamuk tidak sehebat sengatan perda itu sendiri. Perda hanya sekadar Perda tetapi sengatannya harus senantiasa berbekas bagi semua kita, demi kemaslahatan bersama.

Sunday, March 10, 2013

Tubuh Kuat dan Jiwa Sehat [Untuk kalangan sendiri]

[Untuk Kalangan Sendiri]

Mens Sana in corpore Sano*)
[Di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat]


UNGKAPAN Latin ini sesungguhnya adalah sebuah mahakarya sastra dari seorang pujangga Romawi, Decimus Junius Juvenalis (40-160 M), dalam Satire X, sekitar abad kedua Masehi. Genre sastra Romawi ketika itu umumnya berbentuk satire, secara lengkap : "Orandum est ut sit mens sana in corpore sano" artinya: hendaklah kamu semua 
berdoa agar ada jiwa yang sehat di dalam badan yang sehat
.
Fokus kita:
1.     Tubuh
2.     Pola Hidup
3.     Tanda syukur atas tubuh yang sempurna

Pembacaan : 3 Yohanes 1:2

            Allah melalui rasul Yohanes mengehendaki orang-orang percaya itu sehat-sehat dan juga jiwanya baik-baik saja, ini dikandung maksud adalah jiwa dan kesehatan kita itu agar berjalan sesuai dengan berkat, kehendak, dan petunjuk-Nya. Namun, hal ini bukan berarti bahwa orang-orang Kristen akan bebas dari penderitaan dan kekurangan karena pada saat tertentu Allah mungkin mengizinkan kita ada di dalam kekurangan untuk melihat dan menumbuhkan iman percaya dari setiap anak-anak-Nya.
Menghargai tubuh yang sempurna dimaksudkan yaitu dengan merawatnya sedemikian rupa (tidak lebay/lejoo); hal yang paling umum dilakukan adalah: mengkonsumsi makanan yang sehat, bergizi seimbang, perawatan rambut/kulit/muka, berolahraga, peka terhadap seni, rekreasi, dan tentunya kesehatan dari dalam tubuh itu sendiri (mental spritual). Tersering kita mendengar persoalan-persoalan terhadap apa yang dikonsumsi (makanan dan minuman serta yang masuk ke dalam tubuh dengan dihisap dan dibaui) seperti anggur (minuman keras), rokok, narkotika dan sejenisnya. Dari  1 Timotius  5:23 kita baca:

Janganlah lagi minum air saja, melainkan tambahkanlah anggur sedikit, berhubung pencernaanmu terganggu dan tubuhmu sering lemah.

di bagian ini Paulus meminta Timotius untuk menjaga kesehatannya dengan minum sedikit anggur manis yang dalam bahaya Yunani disebut oinos, anggur ini tidak memabukan dan tidak membuat kepala menjadi berat/pusing sebaliknya kandungan unsur alkalinya akan membantu proses pencernaan dalam lambung dan glukosa yang ada di dalamnya akan membantu Timotius untuk menjadi lebih kuat dan segar dalam melakukan segala tugas pelayanannya. Tegas dikatakan sedikit ya? Ingat Bukan untuk memancing-mancing dengan alasan sedikit, sedikit,lama-lama menjadi ????Lupa sedikit malah... J
            Dari 2 FT kita ini, kita mengetahui bahwa dalam Alkitab kesehatan fisik merupakan hal yang penting,  selain itu dalam 1 Korintus 10:31 dikatakan pula:

Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.

Dari pembacaan ini kita dapat menyimpulkan bahwa dalam hal makan dan minum dan melakukan segala sesuatu kita harus mempunyai tujuan yang benar yaitu untuk memuliakan Allah. Dan dalam bagian ini juga ditegaskan bahwa kondisi fisik orang percaya berhubungan langsung dengan tujuan rohaninya, atau dengan kata lain fisik dan rohani memang berbeda tapi merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Dengan demikian maka orang yang sehat rohaninya pasti dia akan berusaha menjaga kesehatan fisiknya karena dia mengetahui apa yang Tuhan mau bagi dirinya, namun bukan berarti orang yang tidak sehat fisiknya, rohani juga tidak sehat.  Kalau hal ini terjadi pasti Tuhan punya maksud dan rencana tertentu bagi orang ini.
Bahkan Alkitab jelas sekali mengatakan bahwa kita perlu memelihara tubuh kita dengan baik (1 Korintus 6:19-20à tubuh sebagai Bait Allah) dan Efesus 5:29 memberitahu kita, “Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, …”
Pertanyaan :
1. Apakan orang percaya harus menjaga kesehatannya?
2. Bagaimana caranya orang percaya dapat menjaga kondisi kesehatannya? 
            Untuk pertanyaan I saya rasa sebagian besar dari kita akan menjawab YA. Namun tidak menutup kemungkinan ada yang menjawab YA tetapi tidak sungguh-sungguh menjaga kesehatannya dengan berbagai alasan.

            Untuk menjawab pertanyaan bagaimana caranya ini, ada beberapa point utama yang saya angkat, yaitu :
1.     Makan makanan bergizi yang benar
Berkaitan dengan makanan, kalau kita lihat pada awal penciptaan, Allah memberikan manusia makan segala tumbuhan yang berbiji dan segala pohon-pohon yang buahnya berbiji (kej.1:29). Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, Allah memberikan mereka unutk makan tumbuh-tumbuhan di padang (Kej. 3:18). Setelah air bah, Allah memberikan manusia makan daging yang halal (Kej.7:2-3). Bagaimana dengan kita, orang percaya zaman ini, apa yang boleh kita makan? Apakah kita juga tidak boleh makan daging yang haram menurut Imamat 11 dan Ulangan 14? Mari kita buka Kis. 10:10-16. dalam pembacaan ini Petrus mendapat penglihatan dan dalam penglihatannya terdapat binatang-binatang yang haram namun Allah menyuruhnya makan, awalnya dia menolak namun Allah mengatakan “Apa yang yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram”. Jadi bagaimana? Sebenarnya bukan Alkitab yang kontradiksi tapi marilah kita makan dengan ucapan syukur dan makan secukupnya dengan variasi makanan yang seimbang. Sebab Firman Tuhan dalam Matius 15:11 menyatakan :

"Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang."
Dan firman ini dilanjutkan dengan :

15:17 Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang di jamban?
15:18 Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang.
Selain itu, Alkitab memperingatkan kita terhadap ketamakan/hal yang berlebih-lebihan (Ulangan 21:20, Amsal 23:2, 2 Petrus 1:5-7, 2 Tmotius 3:1-9, 2 Korintus 10:5). Pada saat yang sama Alkitab memberi peringatan mengenai kesia-siaan (1 Samuel 16:7; Amsal 31:30; 1 Petrus 3:3-4).
2.     Istirahat/rekreasi
Tubuh harus mendapatkan istirahat untuk memperbaiki dirinya sendiri. Kita harus menyediakan waktu untuk berekreasi dan beristirahat untuk menghilangkan ketegangan dalam pekerjaan atau kewajiban keluarga. Tanpa istirahat yang cukup, orang sering kali mengalami kegugupan, depresi, atau mudah tersinggung. Tekanan emosi seperti itu dapat menyebabkan sakit, yang akan memaksa kita untuk beristirahat seperti yang dituntut oleh tubuh kita. Tidak ada pengganti dari tidur yang baik di malam hari.
Mengisi kembali batere kerohanian setiap hari juga penting bagi kesehatan fisik. Renungan harian, belajar Alkitab, dan doa dari seorang Kristen akan menyembuhkan tubuh dan juga jiwanya. Kita juga memerlukan istirahat yang teratur dari pekerjaan, hari peristirahatan, dan liburan sekali dalam setiap enam bulan atau setahun (1 Petrus 4:7).
3.     Olahraga
1 Timotius 4:8 memberitahu kita, “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” Perhatikan bahwa ayat ini tidak mengatakan bahwa olahraga tidak ada gunanya.

Ayat ini mengatakan bahwa olahraga berguna, namun mengungkapkan prioritas yang benar dengan mengatakan bahwa ibadah memiliki nilai yang lebih besar. Rasul Paulus juga menyebut tentang latihan badani dalam ilustrasi mengenai kebenaran rohani.

1 Korintus 9:24-27, “ Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!  Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.  Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.  Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.”

2 Timotius 2:5: “Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga.”

2 Timotius 4:7: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”

Jadi jelaslah bahwa tidak ada salahnya orang Kristen berolahraga.

4.     Tidak merokok
Alkitab tidak pernah secara langsung menyinggung tentang merokok. Namun demikian ada beberapa prinsip yang dapat diterapkan pada merokok. Pertama, Alkitab memerintahkan kita untuk tidak membiarkan tubuh kita “diperhamba” oleh apapun atau Dipaksa takluk=kecanduan.

1 Korintus 6:12 menyatakan, “Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.

Tidak dapat disangkal merokok dapat menyebabkan kecanduan yang kuat. Dalam pasal yang sama, belakangan kita diberitahukan bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus,..karena itu muliakanlah Tuhan dengan tubuhmu (1Kor. 6:19-20). Tidak dapat disangkal merokok sangat merusak kesehatan. Merokok telah dibuktikan oleh berbagai penelitian kesehatan dan ilmiah bahwa dapat merusak paru-paru dan juga sering merusak jantung.
Dengan mengatakan bahwa merokok itu dosa, kita tidak mengatakan bahwa semua perokok tidak diselamatkan. Banyak orang yang percaya pada Yesus Kristus yang merokok. Merokok tidak menghalangi seseorang untuk diselamatkan, dan juga tidak membuat orang kehilangan keselamatan. Merokok tidak membuat orang tidak dapat diampuni, baik untuk orang menjadi Kristen, maupun untuk orang Kristen yang bersedia mengakui dosanya kepada Allah (1 Yohanes 1:9). Pada saat yang sama, dengan yakin kami percaya bahwa merokok adalah dosa yang harus ditinggalkan dan dengan pertolongan Tuhan, diatasi.

5.     Tidak minum minuman beralkohol, peringatan apakah yang Alkitab berikan mengenai minuman beralkohol?
"Anggur adalah pencemooh, minuman keras adalah peribut, tidaklah bijak orang yang terhuyung-huyung karenanya." - Amsal 20:1.
"Pencuri, orang kikir, PEMABUK, pemfitnah
, dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah." - I Korintus 6:10.
Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh” (Efesus 5:18)
Alkohol mempengaruhi sistem tubuh berikut ini:
1. Sistem kekebalan tubuh. Alkohol menurunkan kemampuan sel darah putih untuk melawan penyakit, maka itu meningkatkan resiko radang paru-paru, TBC, hepatitis, dan beberapa penyakit kanker.
2. Sistem kelenjar endokrin. Hanya dengan dua atau tiga minuman beralkohol setiap harinya meningkatkan resiko keguguran, kelahiran mati, dan kelahiran permatur.
3. Sistem sirkulasi. Penggunaan alkohol meningkatkan resiko serangan jantung, menurunkan kadar gula, dan meningkatkan lemak darah dan tekanan darah, sehingga meningkatkan tekanan darah tinggi.
4. Sistem pencernaan. Alkohol melukai perut
sehingga menyebabkan lambung berdarah. Kebiasaan penggunaan alkohol meningkatkan resiko hati berlemak, hepatitis, dan sirosis hati.
Alkohol bertanggungjawab atas persentase bunuh diri yang besar, kecelakaan lalu lintas, kasus penyiksaan anak, dan kekejaman dalam rumah tangga.
6.     Tidak Merajah/Tato/tindik
·          “Janganlah kamu menggoresi tubuhmu karena orang mati dan janganlah merajah tanda-tanda pada kulitmu; Akulah TUHAN” (Imamat 19:28)
·         Yang perlu dipertimbangkan adalah soal sopan santun. Alkitab memerintahkan kita untuk berpakaian dengan sopan (1 Timotius 2:9 à jika hal yang dihadapi mengandung keragu-raguan tingalkan!! (Roma 14:23)
Dalam tubuh yang sehat terkandung jiwa yang sehat dan tidak bisa ditawar-tawar pernyataan itu, ini memberikan pemahaman bahwa jiwa sehat selalu diawali dari tubuh sehat meskipun terkadang berkontradiksi. Tubuh kita harus menjadi persembahan yang hidup,Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati (Roma 12:1).

----------
*) disampaikan pada PB PMK FKIP Undana tgl 19 Januari 2013

Kebebasan oleh Mahasiswa menurut Firman Tuhan (ut kalangan sendiri)


MAHASISWA DAN KEBEBASAN*)
Oleh : Yendris K. Syamruth,S.KM, M.Kes
Dasar Firman Tuhan:
Pkh 11:9-10 dan 12:1
Titus 2: 6
2 Tim 2:22


Pendahuluan
Mahasiswa sangat-sangat identik dengan pemuda dan remaja, dari sisi usia mahasiswa berada dalam klasifikasi usia tersebut, olehnya pada saat kita membahas mengenai mahasiswa sejatinya membahas masalah pemuda dan remaja, termasuk di dalamnya mahasiswa kristen.
Usia pemuda adalah usia dimana masa kita mencari jatidiri,masa mengenal diri seutuhnya, masa dimana kita mencari-cari bentuk paten dan patron hidup di kedewasaan nanti. Mulai dari mengenal diri dan keluarga lalu sekitar dan komunitas. Di masa ini selalu dikaitkan dengan kesenangan, keceriaan, dan tidak lepas dari kebebasan berekspresi. Kita tidak lagi menjalani hidup sekadar untuk mencari kesenangan melainkan akan berusaha mempertahankan kesenangan (search and get and be stable to being habits) itu dan akan mencari-cari cara agar kesenangan itu menjadi kebutuhan, berbeda dengan saat kita berada pada masa kecil, dimana semata-mata kesenangan akan selalu bergantung pada situasi dan orang lain (=orang tua).
Pada masa muda, kepekaan terhadap lingkungan menjadi tuntutan dan mulai tumbuh rasa toleran, baik untuk sekadar  menjadi bagian komunitas maupun berupaya menjadi orang yang berpengaruh di dalam lingkungan (Hurlock, 1996). Nah, pada titik itu segala upaya anak muda selalu berorientasi pada kreatifitas yang tak mau dibatasi, alias kebebasan, bebas berekspresi, bebas mencari komunitas dan teman, bebas menentukan hidup dan arah, serta bebas untuk mempertahankan apa yang ada. 

Dunia mahasiswa jelas berbeda dengan dunia di kala masih berstatus SMA, kita diberikan otonomi akademik, hal ini diharapkan dapat membangkitkan kemandirian dalam segala aspek, termasuk di dalamnya mandiri dalam mengelola (=manajemen) segala yang ada di dalam diri dan juga lingkungan.
Pola hidup yang mandiri dan penuh ekspresi ini seringkali ditanggapi berbeda oleh para muda –mudi; mandiri diartikan harus bebas dari pantauan orang tua dan bebas dari aturan-aturan kaku yang ada.

Mahasiswa yang notabene warga akademis/warga kampus membutuhkan segala peraturan atau rel yang mengaturnya. Kampus memiliki visi, misi, tujuan, dan program yang berorientasi peningkatan kemampuan warga kampus, tentu pula mahasiswanya, apalagi dalam strata akademis,kampus adalah jenjang pendidikan tertinggi. Perlu diingat bahwa. Kampus bukan penentu tunggal masa depan kita, hanya saja kampus dapat sebagai media pembentuk karakter dan potensi diri generasi. Nasib masa depan tetap berada di tangan Mahasiswa. Sukses atau gagal mahasiwalah yang menentukannya.

Mari kita simak sepenggal lagu wajib prosesi penyambutan para mahasiswa baru di kampus-kampus, berikut  ini dan perhatikan lirik dan maksudnya:

Latin
Indonesia
Gaudeamus igitur
Juvenes dum sumus.
Post jucundam juventutem
Post molestam senectutem
Nos habebit humus.
Mari kita bersenang-senang
Selagi masih muda.
Setelah masa muda yang penuh keceriaan
Setelah masa tua yang penuh kesukaran
Tanah akan menguasai kita.
Vivat academia!
Vivant professores!
Vivat membrum quod libet
Vivant membra quae libet
Semper sint in flore.
Panjang umur akademi!
Panjang umur para pengajar!
Panjang umur setiap pelajar!
Panjang umur seluruh pelajar!
Semoga mereka terus tumbuh berkembang!

Dari lirik ini sesungguhnya terbetik pesan kebebasan, namun perlu diperhatikan tetap dalam bingkai kemauan untuk maju dengan penuh tanggungjawab.
Sewaktu kita masih duduk di SMA seringkali ada pemikiran demikian; dengan bahasa sederhananya adalah: “...kuliah itu santai.. belajar dengan sesuka hati.”

Santai bukan Bebas tanpa kendali

Adalah benar bahwa kuliah itu santai, tetapi santai yang dimaksudkan hanya tampak dari luar seperti:
·         Tidak perlu ke sekolah lebih pagi (ada kala kuliah mulai jam 8 kan? Atau lebih siang atau sore, bayangkan jika di SMA yang dikejar-kejar waktu untuk apel,upacara. dan pelajaran yang masuk lebih pagi misal jam 7 atau bahkan lebih pagi lagi);
·         Menggunakan pakaian lebih bebas tidak melulu seragam (titik kebebasan ekspresi dan penonjolan diri); sistem kuliah yang memberi kebebasan menentukan jumlah mata kuliah yang akan diprogram; norma dan etika yang lebih longgar dibanding masa SMA (rambut panjang; urakan; dan penampilan menjadi urutan pertama).
·         Dosen-dosen yang lebih ramah,bersahabat, atau malah cuek dengan mahasiswa dibanding guru-guru yang terlihat kaku, berpatroli, dan tegas.

Namun, santai bukanlah bebas sebebas-bebasnya. Karena jika santai dianggap sebagai kebebasan yang tak terbatas maka kehancuran buahnya, dan segenap penghuni Sorga berkabung! Anak-anak Allah harus punya satu tujuan: Buat penghuni Surga dan Allah bersorak dan tersenyum!!! (Bandingkan buku: Purpose Driven Life).


Godaan-godaan dalam diri mahasiswa
Disadari kebebasan dan ‘kesantaian’ memicu banyaknya ruang untuk disusupi penggoda-pencobaan. Berikut daftar godaan-godaan yang timbul masa mahasiswa (menjadi pergumulan generasi ke generasi berikutnya).

1.    Kebebasan untuk menggunakan waktu dengan tidak terkendali (bebas dari disiplin)
2.    Kebebasan mengelola harta dan uang (hedonis dan konsumptif)
3.    Kebebasan menjalin hubungan dengan siapa saja dan melabrak aturan agama dan norma etis
4.    Kebebasan berbicara dan berpendapat yang sering berujung pada keangkuhan dn egosentris
5.    Kebebasan menentukan arah hidup termasuk minat/jurusan yang seringkali karena ikut-ikutan
6.    Kebebasan untuk diperhatikan, diikuti, dan didengarkan.

Lalu bagaimana respon mahasiswa yang adalah anak-anak dan generasi muda Kristen?

Kita lihat petunjuk Firman Tuhan

Pkh 11:9 : bersukarialah.... ...’’pengadilan”

Pengadilan Allah telah menanti, olehnya dibutuhkan hikmat dalam masa muda dan bijaksana dalam masa –masa kebebasan itu.



Pkh 12:1; Ingatlah akan Penciptamu!!...
Dalam ruang berekspresi sesungguhnya hendaklah diikuti akan perhatian (dan ingatan tentunya) akan Tuhan selaku Pencipta kita, pencipta segala kondisi dan keadaan termasuk diri kita.

Rasul Paulus menyampaikan pesan kepada Titus untuk fokus juga pada anak muda  dalam  Titus 2: 6; nasehati agar mampu menguasai diri

Prinsip dari kebebasan sesuai Firman Tuhan hendaknya adalah kebebasan yang bertanggungjawab. Bertanggungjawab menguasai hawa nafsu dan keinginan bebas.

2 Tim 2:22: Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.

Selain mengekang kehendak bebas dan hawa nafsunya, diharapkan mampu menegakkan keadilan, kesetiaan, kasih, dan persekutuan dengan orang percaya.

Segala bentuk kemandirian yang diharapkan timbul dalam diri mahasiswa haruslah dimaksimalkan dengan rasa tanggungjawab, seperti kemandirian untuk menentukan arah dan tujuan hidup termasuk jurusan dan bagian ilmu haruslah dibarengi untuk memuliakan Tuhan, mahasiswa yang menjadi generasi pelanjut haruslah selalu berpikir bahwa jurusan yang ditekuninya ditujukan untuk pelayanan dan semata-mata menjadi media.

Waktu yang ada dan diberikan seluas-luasnya baik dari orang tua ataupun keluarga, jangan dibawa ke arah pemuasan keinginan untuk lepas dan liar. Mahasiswa yang tidak ditanamkan jiwa kemandirian bertanggungjawab biasanya ketika masuk di bangku perkuliahan akan cenderung liar dan memberontak pada kekakuan disiplin kehidupan termasuk kuliah dan aturan lain.
Efesus 5:16; ..dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.


Teman, lingkungan, dan pergaulan juga memiliki konsekwensi berat jika kita salah memilih, karena begitu banyak penelitian dan pengalaman bahwa faktor ini turut memperburuk kemandirian yang diberikan di kalangan mahasiswa. Pergaulan bebas ke arah hubungan seksual, narkoba, dan perjudian serta kemabukkan menggiring masa depan anak muda dan mahasiswa ke kegelapan dan kesuraman. Ketiadaan pegangan hidup dan kecenderungan untuk berontak pada setiap norma yang ada, dan sesungguhnya berisiko ketika menjadi bagian dalam pelayanan dan pemerintahan, karena akan cenderung permisif pada kehendak bebas dan keinginan-keinginan duniawi dibandingkan kemurnian kehendak Allah, bukan tidak mungkin inilah kondisi yang saat ini dihadapi negeri ini....
I Kor 15:33 ; janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.

Pada dasarnya Tuhan telah mengingatkan kita semua untuk bijaksana dan bertanggungjawab pada segala bentuk kebebasan yang ada, seperti Firman Tuhan tadi.
Janganlah kebiasaan yang baik dihancurkan karena ketidak tegasan dalam memilih teman bergaul, kurang memiliki keberanian berkata tidak pada bentuk-bentuk pergaulan yang tidak sehat.

Ketegasan kita terhadap segala bentuk penyesatan dan pergaulan buruk tentu mendatangkan Kasih dan Rahmat dari Allah, Roh Kudus akan selalu menjadi ‘body guard’ kita dari dalam hati, hanya saja ditentukan pula ketegasan kita untuk melawan segala bentuk tipuan iblis.
Yak 4:7; Karena itu tunduklah kepada Allah dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu.
Pada godaan seksual kita perlu meneladani Yusuf dalam Kisahnya dengan isteri Potifar, yaitu berlari menjauhi (Kej 39:13)

Jika kebebasan-kebebasan yang kita peroleh dan diberikan oleh keluarga dan orangtua kita mampu pertanggungjawabkan maka tangga kesuksesan dan keberhasilan menjadi hak kita dan anak cucu kita, sebab Allah akan memberkati kita (Maz 103:17-18)

Dunia saat ini menghadapi krisis keteladanan dan tokoh yang layak dianut, bukanlah hal yang sukar apabila generasi muda dua puluh atau tiga puluhan tahun lalu mampu mengekang segala hawa nafsu dan kebebasan liar yang ada; olehnya generasi muda saat ini harus tampil menjadi generasi harapan dengan mampu menjadi teladan (dalam kata-tingkah laku-kasih-kesetiaan-kesucian) masa kini dan bakal menjadi teladan masa depan (I Tim 4:12).

Penutup
Mahasiswa Kristen sebagai generasi muda Kristen tidak lepas dari berbagai godaan dan kebebasan liar, akan tetapi hikmat dan Roh Tuhan akan senantiasa menyertai jika kita menyediakan ruang untuk itu sambil  berseru dan bersama orang-orang percaya, setia pada Perkataan dan Firman Tuhan dan melawan segala godaan dengan tegas dan jika pernah gagal kembali pada Tuhan segera dan tidak putus asa mengharapkan janji-janji Tuhan sembari berusaha menjadi yang terbaik dan menjadi teladan dalam segala aspek.
Tidak ada yang mustahil jika bersama dengan Tuhan, dan Kesejahteraan dan berkat melimpah disediakan oleh Tuhan.


*) Disampaikan pada Ibadat PB PMK FMIPA Undana 09 Maret 2013