OPINI (termuat di harian TIMOR EXPRESS per Jumat 26 Sept 2008 Hal.OPINI;dan dapat juga diakses di www.timorexpress.com
Menyiasati Ancaman Kesehatan Global
(Menyongsong Kupang Green And Clean 2008)
Oleh: Yendris K. Syamruth, S.KM., M.Kes *)
Pada peringatan hari kesehatan sedunia April lalu Badan kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO) mengetengahkan tema yang masih segar dalam pergulatan isu global hingga detik ini dalam sebuah tajuk, yaitu: ‘Protecting Health from Climate Change’ (www.who.int.com)
Implikasi kebijakan yang diharapkan dari isu tersebut menitikberatkan kepedulian segala lini dan stratifikasi sosial pada efek dari perubahan iklim yang akhir-akhir ini menjadi isu sentral bagi dunia di berbagai forum. Semua komponen digugah akan kepedulian yang lebih intens menghadapi berbagai ancaman bagi kesehatan penduduk dunia. Bahkan, sebuah Panel PBB yang melakukan pengamatan terhadap permukaan es di kutub mendapati telah terjadinya pelelehan dan keretakan dalam volume yang luas yang dapat saja berimplikasi akan kenaikan muka air laut dan bahkan mengancam dapat menenggelamkan pulau-pulau kecil.
Fakta Empiris
Naiknya suhu muka bumi dan perubahan iklim dunia juga memiliki kecenderungan meningkatkan insidensi berbagai masalah kesehatan, sebut saja meluasnya kasus gizi buruk sebagai akibat gagal panen dan paceklik yang panjang, meluasnya penyakit infeksi sebagai akibat media dan kultur hidup vektor penyakit yang semakin memungkinkannya hidup (enabling factors), meningkatnya krisis air dunia, dan berbagai ancaman lain yang hadir sebagai implikasi dari perubahan iklim global.
Adanya kejadian akhir-akhir ini seakan menjadi pembenaran akan datangnya ancaman itu, misalnya saja kejadian yang terekam di media pada 30 Maret 2008 lalu di Bandung, yaitu turunnya hujan es selama 15-20 menit, atau berbagai kasus malapetaka seperti banjir Jakarta, banjir di Madiun, tanah longsor di Manggarai dan Ende, Abrasi pantai di bibir kota tua Kupang/LLBK dan juga di Maumere, KLB Gizi buruk di Kabupaten Rote Ndao dan lain sebagainya.
Pihak yang dirugikan (baca: masyarakat) seakan meratapi nasib tanpa mencoba merefleksi diri akan segala perilaku merugikan yang telah dan sedang dilakukan, yang tanpa disadarinya sebagai katalisator petaka yang dialami itu. Perilaku sekali lagi menjadi sorotan utama secara global, kebebalan perilaku penduduk dunia menjadikan segala ancaman tersebut semakin memungkinkan terjadi. Kepanikan yang ada belum menjadi perhatian bersama. Masih menjadi kepanikan sebagian kalangan. Sampai kapan berakhir?
Momen yang tepat untuk kembali menata rumah bersama ini (baca: dunia) kerapkali terlewatkan oleh tingkah konsumtif dan euphoria hedonisme sebagian kalangan. Penggunaan bahan dan alat rumah tangga yang ramah lingkungan, penanaman pohon, penghematan energi listrik, hanya dilakukan dan menjadi kesadaran sesaat, tanpa tindakan yang berkelanjutan, padahal pada tindakan yang berkelanjutanlah efek perubahan iklim diyakini mampu diminimalisir.
Diskusi global di berbagai forum internasional saat ini mengarustengahkan isu pemanasan global, efek yang ditimbulkan bagi penduduk dunia termasuk negeri, provinsi, dan juga kota kita merupakan ancaman bagi kita tentunya. Langkah-langkah antisipatif bersifat preventif menjadi panasea yang tepat menghadapi isu ini.
Penyadaran Personal
Sebuah langkah praktis yang dapat diambil adalah dimulai dari diri sendiri sebagai pilar utama dengan menempatkan kembali kesadaran personal (self-awareness) penduduk dunia dengan perilaku menjaga diri dan lingkungan sekitar tetap bersih, sehat, dan menggunakan bahan dan peralatan yang ramah lingkungan, penggunaan bahan organik, peralatan yang dapat didaur ulang, serta membiasakan diri untuk tidak toleran terhadap perilaku merusak lingkungan sekitar.
Pergulatan implikasi praktis ini mendorong ke arah penyadaran serentak di tataran elit hingga ke masyarakat bawah, tersembullah ide kegiatan Kupang Green and Clean yang segera dihelat. Dan gayung itupun setidaknya tersambut untuk aras kota kita, yang terkenal pada Kota berciri KASIH.
Dari kegiatan itu akan memicu kesadaran kelompok, minimal di lingkup rumah tangga, RT, dan/atau RW untuk tetap menggalakkan kesadaran terhadap perilaku menjaga lingkungan tetap hijau, memanfaatkan lingkungan dan sumberdaya alam dengan lebih bijak. Mengingat Kota Kasih dengan topografi khas dan cenderung beriklim tropis semiringkai dengan curah hujan yang sedikit, hematnya lebih gencar melakukan berbagai tindakan preventif seperti ini.
Selain itu, dari kegiatan tersebut dimungkinkan terpicunya berbagai kegiatan berbasis lingkungan lainnya seperti gerakan penanaman pohon produktif di semua kawasan, gerakan Jumat bersih di instansi pemerintah, gerakan penggunaan bahan organik di bidang pertanian, monitoring pemakaian pestisida dan insektisida di sentra pertanian, pengawasan kebakaran lahan, dan suplai air bersih yang memadai, serta deretan pekerjaan rumah lainnya yang tampaknya praktis dan mendatangkan keuntungan bersama, minimal mencegah berkurangnya penipisan ozon di atas langit biru NTT.
Himbauan, tindakan advokasi, dan sosialisasi agar penduduk dunia menjalin kebersamaan holistik dalam menanggapi isu ini, dengan tetap terus berupaya menimilisir efek perubahan iklim dunia melalui tindakan-tindakan nyata sudah sangat sering didendangkan. Tampaknya melalui KGC penyadaran ulang akan pentingnya pemanfaatan alam sekitar secara lebih bijak telah terjadi lagi. Pada tataran akademis, kegiatan ini menjadi medan layan menuju siklus sublimasi keilmuan yang berdampak nyata bagi akademisi pula, olehnya dukungan akademisi bukanlah keniscayaan lagi.
Menutup tulisan singkat ini, penulis berharap kekhawatiran penduduk dunia sedikit akan beranjak pergi seiring dengan ayunan langkah optimis penduduk dunia dan juga penduduk Kota Kupang menapaki kehidupan senyatanya dengan kesadaran diri yang penuh akan hadirnya langit dan bumi baru yang tidak hanya berada dalam awang-awang, akan tetapi membumi di bumi NTT, di Kota ini, dan di dalam diri rakyat flobamora. Olehnya, kearifan dirilah menjadi ’batu penjuru’ menuju kearifan lokal yang hulunya kearifan berkelas global demi sebuah tatanan masyarakat yang lebih baik, paling tidak lebih hijau dan lebih bersih daripada setahun yang lalu.
*) Penulis adalah Staf Pengajar Jurusan Epidemiologi dan Biostatistika -FKM Undana