Sunday, March 10, 2013

Tubuh Kuat dan Jiwa Sehat [Untuk kalangan sendiri]

[Untuk Kalangan Sendiri]

Mens Sana in corpore Sano*)
[Di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat]


UNGKAPAN Latin ini sesungguhnya adalah sebuah mahakarya sastra dari seorang pujangga Romawi, Decimus Junius Juvenalis (40-160 M), dalam Satire X, sekitar abad kedua Masehi. Genre sastra Romawi ketika itu umumnya berbentuk satire, secara lengkap : "Orandum est ut sit mens sana in corpore sano" artinya: hendaklah kamu semua 
berdoa agar ada jiwa yang sehat di dalam badan yang sehat
.
Fokus kita:
1.     Tubuh
2.     Pola Hidup
3.     Tanda syukur atas tubuh yang sempurna

Pembacaan : 3 Yohanes 1:2

            Allah melalui rasul Yohanes mengehendaki orang-orang percaya itu sehat-sehat dan juga jiwanya baik-baik saja, ini dikandung maksud adalah jiwa dan kesehatan kita itu agar berjalan sesuai dengan berkat, kehendak, dan petunjuk-Nya. Namun, hal ini bukan berarti bahwa orang-orang Kristen akan bebas dari penderitaan dan kekurangan karena pada saat tertentu Allah mungkin mengizinkan kita ada di dalam kekurangan untuk melihat dan menumbuhkan iman percaya dari setiap anak-anak-Nya.
Menghargai tubuh yang sempurna dimaksudkan yaitu dengan merawatnya sedemikian rupa (tidak lebay/lejoo); hal yang paling umum dilakukan adalah: mengkonsumsi makanan yang sehat, bergizi seimbang, perawatan rambut/kulit/muka, berolahraga, peka terhadap seni, rekreasi, dan tentunya kesehatan dari dalam tubuh itu sendiri (mental spritual). Tersering kita mendengar persoalan-persoalan terhadap apa yang dikonsumsi (makanan dan minuman serta yang masuk ke dalam tubuh dengan dihisap dan dibaui) seperti anggur (minuman keras), rokok, narkotika dan sejenisnya. Dari  1 Timotius  5:23 kita baca:

Janganlah lagi minum air saja, melainkan tambahkanlah anggur sedikit, berhubung pencernaanmu terganggu dan tubuhmu sering lemah.

di bagian ini Paulus meminta Timotius untuk menjaga kesehatannya dengan minum sedikit anggur manis yang dalam bahaya Yunani disebut oinos, anggur ini tidak memabukan dan tidak membuat kepala menjadi berat/pusing sebaliknya kandungan unsur alkalinya akan membantu proses pencernaan dalam lambung dan glukosa yang ada di dalamnya akan membantu Timotius untuk menjadi lebih kuat dan segar dalam melakukan segala tugas pelayanannya. Tegas dikatakan sedikit ya? Ingat Bukan untuk memancing-mancing dengan alasan sedikit, sedikit,lama-lama menjadi ????Lupa sedikit malah... J
            Dari 2 FT kita ini, kita mengetahui bahwa dalam Alkitab kesehatan fisik merupakan hal yang penting,  selain itu dalam 1 Korintus 10:31 dikatakan pula:

Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.

Dari pembacaan ini kita dapat menyimpulkan bahwa dalam hal makan dan minum dan melakukan segala sesuatu kita harus mempunyai tujuan yang benar yaitu untuk memuliakan Allah. Dan dalam bagian ini juga ditegaskan bahwa kondisi fisik orang percaya berhubungan langsung dengan tujuan rohaninya, atau dengan kata lain fisik dan rohani memang berbeda tapi merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Dengan demikian maka orang yang sehat rohaninya pasti dia akan berusaha menjaga kesehatan fisiknya karena dia mengetahui apa yang Tuhan mau bagi dirinya, namun bukan berarti orang yang tidak sehat fisiknya, rohani juga tidak sehat.  Kalau hal ini terjadi pasti Tuhan punya maksud dan rencana tertentu bagi orang ini.
Bahkan Alkitab jelas sekali mengatakan bahwa kita perlu memelihara tubuh kita dengan baik (1 Korintus 6:19-20à tubuh sebagai Bait Allah) dan Efesus 5:29 memberitahu kita, “Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, …”
Pertanyaan :
1. Apakan orang percaya harus menjaga kesehatannya?
2. Bagaimana caranya orang percaya dapat menjaga kondisi kesehatannya? 
            Untuk pertanyaan I saya rasa sebagian besar dari kita akan menjawab YA. Namun tidak menutup kemungkinan ada yang menjawab YA tetapi tidak sungguh-sungguh menjaga kesehatannya dengan berbagai alasan.

            Untuk menjawab pertanyaan bagaimana caranya ini, ada beberapa point utama yang saya angkat, yaitu :
1.     Makan makanan bergizi yang benar
Berkaitan dengan makanan, kalau kita lihat pada awal penciptaan, Allah memberikan manusia makan segala tumbuhan yang berbiji dan segala pohon-pohon yang buahnya berbiji (kej.1:29). Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, Allah memberikan mereka unutk makan tumbuh-tumbuhan di padang (Kej. 3:18). Setelah air bah, Allah memberikan manusia makan daging yang halal (Kej.7:2-3). Bagaimana dengan kita, orang percaya zaman ini, apa yang boleh kita makan? Apakah kita juga tidak boleh makan daging yang haram menurut Imamat 11 dan Ulangan 14? Mari kita buka Kis. 10:10-16. dalam pembacaan ini Petrus mendapat penglihatan dan dalam penglihatannya terdapat binatang-binatang yang haram namun Allah menyuruhnya makan, awalnya dia menolak namun Allah mengatakan “Apa yang yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram”. Jadi bagaimana? Sebenarnya bukan Alkitab yang kontradiksi tapi marilah kita makan dengan ucapan syukur dan makan secukupnya dengan variasi makanan yang seimbang. Sebab Firman Tuhan dalam Matius 15:11 menyatakan :

"Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang."
Dan firman ini dilanjutkan dengan :

15:17 Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang di jamban?
15:18 Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang.
Selain itu, Alkitab memperingatkan kita terhadap ketamakan/hal yang berlebih-lebihan (Ulangan 21:20, Amsal 23:2, 2 Petrus 1:5-7, 2 Tmotius 3:1-9, 2 Korintus 10:5). Pada saat yang sama Alkitab memberi peringatan mengenai kesia-siaan (1 Samuel 16:7; Amsal 31:30; 1 Petrus 3:3-4).
2.     Istirahat/rekreasi
Tubuh harus mendapatkan istirahat untuk memperbaiki dirinya sendiri. Kita harus menyediakan waktu untuk berekreasi dan beristirahat untuk menghilangkan ketegangan dalam pekerjaan atau kewajiban keluarga. Tanpa istirahat yang cukup, orang sering kali mengalami kegugupan, depresi, atau mudah tersinggung. Tekanan emosi seperti itu dapat menyebabkan sakit, yang akan memaksa kita untuk beristirahat seperti yang dituntut oleh tubuh kita. Tidak ada pengganti dari tidur yang baik di malam hari.
Mengisi kembali batere kerohanian setiap hari juga penting bagi kesehatan fisik. Renungan harian, belajar Alkitab, dan doa dari seorang Kristen akan menyembuhkan tubuh dan juga jiwanya. Kita juga memerlukan istirahat yang teratur dari pekerjaan, hari peristirahatan, dan liburan sekali dalam setiap enam bulan atau setahun (1 Petrus 4:7).
3.     Olahraga
1 Timotius 4:8 memberitahu kita, “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” Perhatikan bahwa ayat ini tidak mengatakan bahwa olahraga tidak ada gunanya.

Ayat ini mengatakan bahwa olahraga berguna, namun mengungkapkan prioritas yang benar dengan mengatakan bahwa ibadah memiliki nilai yang lebih besar. Rasul Paulus juga menyebut tentang latihan badani dalam ilustrasi mengenai kebenaran rohani.

1 Korintus 9:24-27, “ Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!  Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.  Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.  Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.”

2 Timotius 2:5: “Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga.”

2 Timotius 4:7: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”

Jadi jelaslah bahwa tidak ada salahnya orang Kristen berolahraga.

4.     Tidak merokok
Alkitab tidak pernah secara langsung menyinggung tentang merokok. Namun demikian ada beberapa prinsip yang dapat diterapkan pada merokok. Pertama, Alkitab memerintahkan kita untuk tidak membiarkan tubuh kita “diperhamba” oleh apapun atau Dipaksa takluk=kecanduan.

1 Korintus 6:12 menyatakan, “Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.

Tidak dapat disangkal merokok dapat menyebabkan kecanduan yang kuat. Dalam pasal yang sama, belakangan kita diberitahukan bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus,..karena itu muliakanlah Tuhan dengan tubuhmu (1Kor. 6:19-20). Tidak dapat disangkal merokok sangat merusak kesehatan. Merokok telah dibuktikan oleh berbagai penelitian kesehatan dan ilmiah bahwa dapat merusak paru-paru dan juga sering merusak jantung.
Dengan mengatakan bahwa merokok itu dosa, kita tidak mengatakan bahwa semua perokok tidak diselamatkan. Banyak orang yang percaya pada Yesus Kristus yang merokok. Merokok tidak menghalangi seseorang untuk diselamatkan, dan juga tidak membuat orang kehilangan keselamatan. Merokok tidak membuat orang tidak dapat diampuni, baik untuk orang menjadi Kristen, maupun untuk orang Kristen yang bersedia mengakui dosanya kepada Allah (1 Yohanes 1:9). Pada saat yang sama, dengan yakin kami percaya bahwa merokok adalah dosa yang harus ditinggalkan dan dengan pertolongan Tuhan, diatasi.

5.     Tidak minum minuman beralkohol, peringatan apakah yang Alkitab berikan mengenai minuman beralkohol?
"Anggur adalah pencemooh, minuman keras adalah peribut, tidaklah bijak orang yang terhuyung-huyung karenanya." - Amsal 20:1.
"Pencuri, orang kikir, PEMABUK, pemfitnah
, dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah." - I Korintus 6:10.
Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh” (Efesus 5:18)
Alkohol mempengaruhi sistem tubuh berikut ini:
1. Sistem kekebalan tubuh. Alkohol menurunkan kemampuan sel darah putih untuk melawan penyakit, maka itu meningkatkan resiko radang paru-paru, TBC, hepatitis, dan beberapa penyakit kanker.
2. Sistem kelenjar endokrin. Hanya dengan dua atau tiga minuman beralkohol setiap harinya meningkatkan resiko keguguran, kelahiran mati, dan kelahiran permatur.
3. Sistem sirkulasi. Penggunaan alkohol meningkatkan resiko serangan jantung, menurunkan kadar gula, dan meningkatkan lemak darah dan tekanan darah, sehingga meningkatkan tekanan darah tinggi.
4. Sistem pencernaan. Alkohol melukai perut
sehingga menyebabkan lambung berdarah. Kebiasaan penggunaan alkohol meningkatkan resiko hati berlemak, hepatitis, dan sirosis hati.
Alkohol bertanggungjawab atas persentase bunuh diri yang besar, kecelakaan lalu lintas, kasus penyiksaan anak, dan kekejaman dalam rumah tangga.
6.     Tidak Merajah/Tato/tindik
·          “Janganlah kamu menggoresi tubuhmu karena orang mati dan janganlah merajah tanda-tanda pada kulitmu; Akulah TUHAN” (Imamat 19:28)
·         Yang perlu dipertimbangkan adalah soal sopan santun. Alkitab memerintahkan kita untuk berpakaian dengan sopan (1 Timotius 2:9 à jika hal yang dihadapi mengandung keragu-raguan tingalkan!! (Roma 14:23)
Dalam tubuh yang sehat terkandung jiwa yang sehat dan tidak bisa ditawar-tawar pernyataan itu, ini memberikan pemahaman bahwa jiwa sehat selalu diawali dari tubuh sehat meskipun terkadang berkontradiksi. Tubuh kita harus menjadi persembahan yang hidup,Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati (Roma 12:1).

----------
*) disampaikan pada PB PMK FKIP Undana tgl 19 Januari 2013

Kebebasan oleh Mahasiswa menurut Firman Tuhan (ut kalangan sendiri)


MAHASISWA DAN KEBEBASAN*)
Oleh : Yendris K. Syamruth,S.KM, M.Kes
Dasar Firman Tuhan:
Pkh 11:9-10 dan 12:1
Titus 2: 6
2 Tim 2:22


Pendahuluan
Mahasiswa sangat-sangat identik dengan pemuda dan remaja, dari sisi usia mahasiswa berada dalam klasifikasi usia tersebut, olehnya pada saat kita membahas mengenai mahasiswa sejatinya membahas masalah pemuda dan remaja, termasuk di dalamnya mahasiswa kristen.
Usia pemuda adalah usia dimana masa kita mencari jatidiri,masa mengenal diri seutuhnya, masa dimana kita mencari-cari bentuk paten dan patron hidup di kedewasaan nanti. Mulai dari mengenal diri dan keluarga lalu sekitar dan komunitas. Di masa ini selalu dikaitkan dengan kesenangan, keceriaan, dan tidak lepas dari kebebasan berekspresi. Kita tidak lagi menjalani hidup sekadar untuk mencari kesenangan melainkan akan berusaha mempertahankan kesenangan (search and get and be stable to being habits) itu dan akan mencari-cari cara agar kesenangan itu menjadi kebutuhan, berbeda dengan saat kita berada pada masa kecil, dimana semata-mata kesenangan akan selalu bergantung pada situasi dan orang lain (=orang tua).
Pada masa muda, kepekaan terhadap lingkungan menjadi tuntutan dan mulai tumbuh rasa toleran, baik untuk sekadar  menjadi bagian komunitas maupun berupaya menjadi orang yang berpengaruh di dalam lingkungan (Hurlock, 1996). Nah, pada titik itu segala upaya anak muda selalu berorientasi pada kreatifitas yang tak mau dibatasi, alias kebebasan, bebas berekspresi, bebas mencari komunitas dan teman, bebas menentukan hidup dan arah, serta bebas untuk mempertahankan apa yang ada. 

Dunia mahasiswa jelas berbeda dengan dunia di kala masih berstatus SMA, kita diberikan otonomi akademik, hal ini diharapkan dapat membangkitkan kemandirian dalam segala aspek, termasuk di dalamnya mandiri dalam mengelola (=manajemen) segala yang ada di dalam diri dan juga lingkungan.
Pola hidup yang mandiri dan penuh ekspresi ini seringkali ditanggapi berbeda oleh para muda –mudi; mandiri diartikan harus bebas dari pantauan orang tua dan bebas dari aturan-aturan kaku yang ada.

Mahasiswa yang notabene warga akademis/warga kampus membutuhkan segala peraturan atau rel yang mengaturnya. Kampus memiliki visi, misi, tujuan, dan program yang berorientasi peningkatan kemampuan warga kampus, tentu pula mahasiswanya, apalagi dalam strata akademis,kampus adalah jenjang pendidikan tertinggi. Perlu diingat bahwa. Kampus bukan penentu tunggal masa depan kita, hanya saja kampus dapat sebagai media pembentuk karakter dan potensi diri generasi. Nasib masa depan tetap berada di tangan Mahasiswa. Sukses atau gagal mahasiwalah yang menentukannya.

Mari kita simak sepenggal lagu wajib prosesi penyambutan para mahasiswa baru di kampus-kampus, berikut  ini dan perhatikan lirik dan maksudnya:

Latin
Indonesia
Gaudeamus igitur
Juvenes dum sumus.
Post jucundam juventutem
Post molestam senectutem
Nos habebit humus.
Mari kita bersenang-senang
Selagi masih muda.
Setelah masa muda yang penuh keceriaan
Setelah masa tua yang penuh kesukaran
Tanah akan menguasai kita.
Vivat academia!
Vivant professores!
Vivat membrum quod libet
Vivant membra quae libet
Semper sint in flore.
Panjang umur akademi!
Panjang umur para pengajar!
Panjang umur setiap pelajar!
Panjang umur seluruh pelajar!
Semoga mereka terus tumbuh berkembang!

Dari lirik ini sesungguhnya terbetik pesan kebebasan, namun perlu diperhatikan tetap dalam bingkai kemauan untuk maju dengan penuh tanggungjawab.
Sewaktu kita masih duduk di SMA seringkali ada pemikiran demikian; dengan bahasa sederhananya adalah: “...kuliah itu santai.. belajar dengan sesuka hati.”

Santai bukan Bebas tanpa kendali

Adalah benar bahwa kuliah itu santai, tetapi santai yang dimaksudkan hanya tampak dari luar seperti:
·         Tidak perlu ke sekolah lebih pagi (ada kala kuliah mulai jam 8 kan? Atau lebih siang atau sore, bayangkan jika di SMA yang dikejar-kejar waktu untuk apel,upacara. dan pelajaran yang masuk lebih pagi misal jam 7 atau bahkan lebih pagi lagi);
·         Menggunakan pakaian lebih bebas tidak melulu seragam (titik kebebasan ekspresi dan penonjolan diri); sistem kuliah yang memberi kebebasan menentukan jumlah mata kuliah yang akan diprogram; norma dan etika yang lebih longgar dibanding masa SMA (rambut panjang; urakan; dan penampilan menjadi urutan pertama).
·         Dosen-dosen yang lebih ramah,bersahabat, atau malah cuek dengan mahasiswa dibanding guru-guru yang terlihat kaku, berpatroli, dan tegas.

Namun, santai bukanlah bebas sebebas-bebasnya. Karena jika santai dianggap sebagai kebebasan yang tak terbatas maka kehancuran buahnya, dan segenap penghuni Sorga berkabung! Anak-anak Allah harus punya satu tujuan: Buat penghuni Surga dan Allah bersorak dan tersenyum!!! (Bandingkan buku: Purpose Driven Life).


Godaan-godaan dalam diri mahasiswa
Disadari kebebasan dan ‘kesantaian’ memicu banyaknya ruang untuk disusupi penggoda-pencobaan. Berikut daftar godaan-godaan yang timbul masa mahasiswa (menjadi pergumulan generasi ke generasi berikutnya).

1.    Kebebasan untuk menggunakan waktu dengan tidak terkendali (bebas dari disiplin)
2.    Kebebasan mengelola harta dan uang (hedonis dan konsumptif)
3.    Kebebasan menjalin hubungan dengan siapa saja dan melabrak aturan agama dan norma etis
4.    Kebebasan berbicara dan berpendapat yang sering berujung pada keangkuhan dn egosentris
5.    Kebebasan menentukan arah hidup termasuk minat/jurusan yang seringkali karena ikut-ikutan
6.    Kebebasan untuk diperhatikan, diikuti, dan didengarkan.

Lalu bagaimana respon mahasiswa yang adalah anak-anak dan generasi muda Kristen?

Kita lihat petunjuk Firman Tuhan

Pkh 11:9 : bersukarialah.... ...’’pengadilan”

Pengadilan Allah telah menanti, olehnya dibutuhkan hikmat dalam masa muda dan bijaksana dalam masa –masa kebebasan itu.



Pkh 12:1; Ingatlah akan Penciptamu!!...
Dalam ruang berekspresi sesungguhnya hendaklah diikuti akan perhatian (dan ingatan tentunya) akan Tuhan selaku Pencipta kita, pencipta segala kondisi dan keadaan termasuk diri kita.

Rasul Paulus menyampaikan pesan kepada Titus untuk fokus juga pada anak muda  dalam  Titus 2: 6; nasehati agar mampu menguasai diri

Prinsip dari kebebasan sesuai Firman Tuhan hendaknya adalah kebebasan yang bertanggungjawab. Bertanggungjawab menguasai hawa nafsu dan keinginan bebas.

2 Tim 2:22: Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.

Selain mengekang kehendak bebas dan hawa nafsunya, diharapkan mampu menegakkan keadilan, kesetiaan, kasih, dan persekutuan dengan orang percaya.

Segala bentuk kemandirian yang diharapkan timbul dalam diri mahasiswa haruslah dimaksimalkan dengan rasa tanggungjawab, seperti kemandirian untuk menentukan arah dan tujuan hidup termasuk jurusan dan bagian ilmu haruslah dibarengi untuk memuliakan Tuhan, mahasiswa yang menjadi generasi pelanjut haruslah selalu berpikir bahwa jurusan yang ditekuninya ditujukan untuk pelayanan dan semata-mata menjadi media.

Waktu yang ada dan diberikan seluas-luasnya baik dari orang tua ataupun keluarga, jangan dibawa ke arah pemuasan keinginan untuk lepas dan liar. Mahasiswa yang tidak ditanamkan jiwa kemandirian bertanggungjawab biasanya ketika masuk di bangku perkuliahan akan cenderung liar dan memberontak pada kekakuan disiplin kehidupan termasuk kuliah dan aturan lain.
Efesus 5:16; ..dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.


Teman, lingkungan, dan pergaulan juga memiliki konsekwensi berat jika kita salah memilih, karena begitu banyak penelitian dan pengalaman bahwa faktor ini turut memperburuk kemandirian yang diberikan di kalangan mahasiswa. Pergaulan bebas ke arah hubungan seksual, narkoba, dan perjudian serta kemabukkan menggiring masa depan anak muda dan mahasiswa ke kegelapan dan kesuraman. Ketiadaan pegangan hidup dan kecenderungan untuk berontak pada setiap norma yang ada, dan sesungguhnya berisiko ketika menjadi bagian dalam pelayanan dan pemerintahan, karena akan cenderung permisif pada kehendak bebas dan keinginan-keinginan duniawi dibandingkan kemurnian kehendak Allah, bukan tidak mungkin inilah kondisi yang saat ini dihadapi negeri ini....
I Kor 15:33 ; janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.

Pada dasarnya Tuhan telah mengingatkan kita semua untuk bijaksana dan bertanggungjawab pada segala bentuk kebebasan yang ada, seperti Firman Tuhan tadi.
Janganlah kebiasaan yang baik dihancurkan karena ketidak tegasan dalam memilih teman bergaul, kurang memiliki keberanian berkata tidak pada bentuk-bentuk pergaulan yang tidak sehat.

Ketegasan kita terhadap segala bentuk penyesatan dan pergaulan buruk tentu mendatangkan Kasih dan Rahmat dari Allah, Roh Kudus akan selalu menjadi ‘body guard’ kita dari dalam hati, hanya saja ditentukan pula ketegasan kita untuk melawan segala bentuk tipuan iblis.
Yak 4:7; Karena itu tunduklah kepada Allah dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu.
Pada godaan seksual kita perlu meneladani Yusuf dalam Kisahnya dengan isteri Potifar, yaitu berlari menjauhi (Kej 39:13)

Jika kebebasan-kebebasan yang kita peroleh dan diberikan oleh keluarga dan orangtua kita mampu pertanggungjawabkan maka tangga kesuksesan dan keberhasilan menjadi hak kita dan anak cucu kita, sebab Allah akan memberkati kita (Maz 103:17-18)

Dunia saat ini menghadapi krisis keteladanan dan tokoh yang layak dianut, bukanlah hal yang sukar apabila generasi muda dua puluh atau tiga puluhan tahun lalu mampu mengekang segala hawa nafsu dan kebebasan liar yang ada; olehnya generasi muda saat ini harus tampil menjadi generasi harapan dengan mampu menjadi teladan (dalam kata-tingkah laku-kasih-kesetiaan-kesucian) masa kini dan bakal menjadi teladan masa depan (I Tim 4:12).

Penutup
Mahasiswa Kristen sebagai generasi muda Kristen tidak lepas dari berbagai godaan dan kebebasan liar, akan tetapi hikmat dan Roh Tuhan akan senantiasa menyertai jika kita menyediakan ruang untuk itu sambil  berseru dan bersama orang-orang percaya, setia pada Perkataan dan Firman Tuhan dan melawan segala godaan dengan tegas dan jika pernah gagal kembali pada Tuhan segera dan tidak putus asa mengharapkan janji-janji Tuhan sembari berusaha menjadi yang terbaik dan menjadi teladan dalam segala aspek.
Tidak ada yang mustahil jika bersama dengan Tuhan, dan Kesejahteraan dan berkat melimpah disediakan oleh Tuhan.


*) Disampaikan pada Ibadat PB PMK FMIPA Undana 09 Maret 2013