Sunday, March 10, 2013

Kebebasan oleh Mahasiswa menurut Firman Tuhan (ut kalangan sendiri)


MAHASISWA DAN KEBEBASAN*)
Oleh : Yendris K. Syamruth,S.KM, M.Kes
Dasar Firman Tuhan:
Pkh 11:9-10 dan 12:1
Titus 2: 6
2 Tim 2:22


Pendahuluan
Mahasiswa sangat-sangat identik dengan pemuda dan remaja, dari sisi usia mahasiswa berada dalam klasifikasi usia tersebut, olehnya pada saat kita membahas mengenai mahasiswa sejatinya membahas masalah pemuda dan remaja, termasuk di dalamnya mahasiswa kristen.
Usia pemuda adalah usia dimana masa kita mencari jatidiri,masa mengenal diri seutuhnya, masa dimana kita mencari-cari bentuk paten dan patron hidup di kedewasaan nanti. Mulai dari mengenal diri dan keluarga lalu sekitar dan komunitas. Di masa ini selalu dikaitkan dengan kesenangan, keceriaan, dan tidak lepas dari kebebasan berekspresi. Kita tidak lagi menjalani hidup sekadar untuk mencari kesenangan melainkan akan berusaha mempertahankan kesenangan (search and get and be stable to being habits) itu dan akan mencari-cari cara agar kesenangan itu menjadi kebutuhan, berbeda dengan saat kita berada pada masa kecil, dimana semata-mata kesenangan akan selalu bergantung pada situasi dan orang lain (=orang tua).
Pada masa muda, kepekaan terhadap lingkungan menjadi tuntutan dan mulai tumbuh rasa toleran, baik untuk sekadar  menjadi bagian komunitas maupun berupaya menjadi orang yang berpengaruh di dalam lingkungan (Hurlock, 1996). Nah, pada titik itu segala upaya anak muda selalu berorientasi pada kreatifitas yang tak mau dibatasi, alias kebebasan, bebas berekspresi, bebas mencari komunitas dan teman, bebas menentukan hidup dan arah, serta bebas untuk mempertahankan apa yang ada. 

Dunia mahasiswa jelas berbeda dengan dunia di kala masih berstatus SMA, kita diberikan otonomi akademik, hal ini diharapkan dapat membangkitkan kemandirian dalam segala aspek, termasuk di dalamnya mandiri dalam mengelola (=manajemen) segala yang ada di dalam diri dan juga lingkungan.
Pola hidup yang mandiri dan penuh ekspresi ini seringkali ditanggapi berbeda oleh para muda –mudi; mandiri diartikan harus bebas dari pantauan orang tua dan bebas dari aturan-aturan kaku yang ada.

Mahasiswa yang notabene warga akademis/warga kampus membutuhkan segala peraturan atau rel yang mengaturnya. Kampus memiliki visi, misi, tujuan, dan program yang berorientasi peningkatan kemampuan warga kampus, tentu pula mahasiswanya, apalagi dalam strata akademis,kampus adalah jenjang pendidikan tertinggi. Perlu diingat bahwa. Kampus bukan penentu tunggal masa depan kita, hanya saja kampus dapat sebagai media pembentuk karakter dan potensi diri generasi. Nasib masa depan tetap berada di tangan Mahasiswa. Sukses atau gagal mahasiwalah yang menentukannya.

Mari kita simak sepenggal lagu wajib prosesi penyambutan para mahasiswa baru di kampus-kampus, berikut  ini dan perhatikan lirik dan maksudnya:

Latin
Indonesia
Gaudeamus igitur
Juvenes dum sumus.
Post jucundam juventutem
Post molestam senectutem
Nos habebit humus.
Mari kita bersenang-senang
Selagi masih muda.
Setelah masa muda yang penuh keceriaan
Setelah masa tua yang penuh kesukaran
Tanah akan menguasai kita.
Vivat academia!
Vivant professores!
Vivat membrum quod libet
Vivant membra quae libet
Semper sint in flore.
Panjang umur akademi!
Panjang umur para pengajar!
Panjang umur setiap pelajar!
Panjang umur seluruh pelajar!
Semoga mereka terus tumbuh berkembang!

Dari lirik ini sesungguhnya terbetik pesan kebebasan, namun perlu diperhatikan tetap dalam bingkai kemauan untuk maju dengan penuh tanggungjawab.
Sewaktu kita masih duduk di SMA seringkali ada pemikiran demikian; dengan bahasa sederhananya adalah: “...kuliah itu santai.. belajar dengan sesuka hati.”

Santai bukan Bebas tanpa kendali

Adalah benar bahwa kuliah itu santai, tetapi santai yang dimaksudkan hanya tampak dari luar seperti:
·         Tidak perlu ke sekolah lebih pagi (ada kala kuliah mulai jam 8 kan? Atau lebih siang atau sore, bayangkan jika di SMA yang dikejar-kejar waktu untuk apel,upacara. dan pelajaran yang masuk lebih pagi misal jam 7 atau bahkan lebih pagi lagi);
·         Menggunakan pakaian lebih bebas tidak melulu seragam (titik kebebasan ekspresi dan penonjolan diri); sistem kuliah yang memberi kebebasan menentukan jumlah mata kuliah yang akan diprogram; norma dan etika yang lebih longgar dibanding masa SMA (rambut panjang; urakan; dan penampilan menjadi urutan pertama).
·         Dosen-dosen yang lebih ramah,bersahabat, atau malah cuek dengan mahasiswa dibanding guru-guru yang terlihat kaku, berpatroli, dan tegas.

Namun, santai bukanlah bebas sebebas-bebasnya. Karena jika santai dianggap sebagai kebebasan yang tak terbatas maka kehancuran buahnya, dan segenap penghuni Sorga berkabung! Anak-anak Allah harus punya satu tujuan: Buat penghuni Surga dan Allah bersorak dan tersenyum!!! (Bandingkan buku: Purpose Driven Life).


Godaan-godaan dalam diri mahasiswa
Disadari kebebasan dan ‘kesantaian’ memicu banyaknya ruang untuk disusupi penggoda-pencobaan. Berikut daftar godaan-godaan yang timbul masa mahasiswa (menjadi pergumulan generasi ke generasi berikutnya).

1.    Kebebasan untuk menggunakan waktu dengan tidak terkendali (bebas dari disiplin)
2.    Kebebasan mengelola harta dan uang (hedonis dan konsumptif)
3.    Kebebasan menjalin hubungan dengan siapa saja dan melabrak aturan agama dan norma etis
4.    Kebebasan berbicara dan berpendapat yang sering berujung pada keangkuhan dn egosentris
5.    Kebebasan menentukan arah hidup termasuk minat/jurusan yang seringkali karena ikut-ikutan
6.    Kebebasan untuk diperhatikan, diikuti, dan didengarkan.

Lalu bagaimana respon mahasiswa yang adalah anak-anak dan generasi muda Kristen?

Kita lihat petunjuk Firman Tuhan

Pkh 11:9 : bersukarialah.... ...’’pengadilan”

Pengadilan Allah telah menanti, olehnya dibutuhkan hikmat dalam masa muda dan bijaksana dalam masa –masa kebebasan itu.



Pkh 12:1; Ingatlah akan Penciptamu!!...
Dalam ruang berekspresi sesungguhnya hendaklah diikuti akan perhatian (dan ingatan tentunya) akan Tuhan selaku Pencipta kita, pencipta segala kondisi dan keadaan termasuk diri kita.

Rasul Paulus menyampaikan pesan kepada Titus untuk fokus juga pada anak muda  dalam  Titus 2: 6; nasehati agar mampu menguasai diri

Prinsip dari kebebasan sesuai Firman Tuhan hendaknya adalah kebebasan yang bertanggungjawab. Bertanggungjawab menguasai hawa nafsu dan keinginan bebas.

2 Tim 2:22: Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.

Selain mengekang kehendak bebas dan hawa nafsunya, diharapkan mampu menegakkan keadilan, kesetiaan, kasih, dan persekutuan dengan orang percaya.

Segala bentuk kemandirian yang diharapkan timbul dalam diri mahasiswa haruslah dimaksimalkan dengan rasa tanggungjawab, seperti kemandirian untuk menentukan arah dan tujuan hidup termasuk jurusan dan bagian ilmu haruslah dibarengi untuk memuliakan Tuhan, mahasiswa yang menjadi generasi pelanjut haruslah selalu berpikir bahwa jurusan yang ditekuninya ditujukan untuk pelayanan dan semata-mata menjadi media.

Waktu yang ada dan diberikan seluas-luasnya baik dari orang tua ataupun keluarga, jangan dibawa ke arah pemuasan keinginan untuk lepas dan liar. Mahasiswa yang tidak ditanamkan jiwa kemandirian bertanggungjawab biasanya ketika masuk di bangku perkuliahan akan cenderung liar dan memberontak pada kekakuan disiplin kehidupan termasuk kuliah dan aturan lain.
Efesus 5:16; ..dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.


Teman, lingkungan, dan pergaulan juga memiliki konsekwensi berat jika kita salah memilih, karena begitu banyak penelitian dan pengalaman bahwa faktor ini turut memperburuk kemandirian yang diberikan di kalangan mahasiswa. Pergaulan bebas ke arah hubungan seksual, narkoba, dan perjudian serta kemabukkan menggiring masa depan anak muda dan mahasiswa ke kegelapan dan kesuraman. Ketiadaan pegangan hidup dan kecenderungan untuk berontak pada setiap norma yang ada, dan sesungguhnya berisiko ketika menjadi bagian dalam pelayanan dan pemerintahan, karena akan cenderung permisif pada kehendak bebas dan keinginan-keinginan duniawi dibandingkan kemurnian kehendak Allah, bukan tidak mungkin inilah kondisi yang saat ini dihadapi negeri ini....
I Kor 15:33 ; janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.

Pada dasarnya Tuhan telah mengingatkan kita semua untuk bijaksana dan bertanggungjawab pada segala bentuk kebebasan yang ada, seperti Firman Tuhan tadi.
Janganlah kebiasaan yang baik dihancurkan karena ketidak tegasan dalam memilih teman bergaul, kurang memiliki keberanian berkata tidak pada bentuk-bentuk pergaulan yang tidak sehat.

Ketegasan kita terhadap segala bentuk penyesatan dan pergaulan buruk tentu mendatangkan Kasih dan Rahmat dari Allah, Roh Kudus akan selalu menjadi ‘body guard’ kita dari dalam hati, hanya saja ditentukan pula ketegasan kita untuk melawan segala bentuk tipuan iblis.
Yak 4:7; Karena itu tunduklah kepada Allah dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu.
Pada godaan seksual kita perlu meneladani Yusuf dalam Kisahnya dengan isteri Potifar, yaitu berlari menjauhi (Kej 39:13)

Jika kebebasan-kebebasan yang kita peroleh dan diberikan oleh keluarga dan orangtua kita mampu pertanggungjawabkan maka tangga kesuksesan dan keberhasilan menjadi hak kita dan anak cucu kita, sebab Allah akan memberkati kita (Maz 103:17-18)

Dunia saat ini menghadapi krisis keteladanan dan tokoh yang layak dianut, bukanlah hal yang sukar apabila generasi muda dua puluh atau tiga puluhan tahun lalu mampu mengekang segala hawa nafsu dan kebebasan liar yang ada; olehnya generasi muda saat ini harus tampil menjadi generasi harapan dengan mampu menjadi teladan (dalam kata-tingkah laku-kasih-kesetiaan-kesucian) masa kini dan bakal menjadi teladan masa depan (I Tim 4:12).

Penutup
Mahasiswa Kristen sebagai generasi muda Kristen tidak lepas dari berbagai godaan dan kebebasan liar, akan tetapi hikmat dan Roh Tuhan akan senantiasa menyertai jika kita menyediakan ruang untuk itu sambil  berseru dan bersama orang-orang percaya, setia pada Perkataan dan Firman Tuhan dan melawan segala godaan dengan tegas dan jika pernah gagal kembali pada Tuhan segera dan tidak putus asa mengharapkan janji-janji Tuhan sembari berusaha menjadi yang terbaik dan menjadi teladan dalam segala aspek.
Tidak ada yang mustahil jika bersama dengan Tuhan, dan Kesejahteraan dan berkat melimpah disediakan oleh Tuhan.


*) Disampaikan pada Ibadat PB PMK FMIPA Undana 09 Maret 2013

No comments: