MAHASISWA DAN KEBEBASAN*)
Oleh : Yendris K. Syamruth,S.KM, M.Kes
Dasar Firman
Tuhan:
Pkh 11:9-10
dan 12:1
Titus 2: 6
2 Tim 2:22
Pendahuluan
Mahasiswa
sangat-sangat identik dengan pemuda dan remaja, dari sisi usia mahasiswa berada
dalam klasifikasi usia tersebut, olehnya pada saat kita membahas mengenai
mahasiswa sejatinya membahas masalah pemuda dan remaja, termasuk di dalamnya
mahasiswa kristen.
Usia pemuda
adalah usia dimana masa kita mencari jatidiri,masa mengenal diri seutuhnya,
masa dimana kita mencari-cari bentuk paten dan patron hidup di kedewasaan
nanti. Mulai dari mengenal diri dan keluarga lalu sekitar dan komunitas. Di
masa ini selalu dikaitkan dengan kesenangan, keceriaan, dan tidak lepas dari
kebebasan berekspresi. Kita tidak lagi menjalani hidup sekadar untuk mencari
kesenangan melainkan akan berusaha mempertahankan kesenangan (search and get and be stable to being
habits) itu dan akan mencari-cari cara agar kesenangan itu menjadi
kebutuhan, berbeda dengan saat kita berada pada masa kecil, dimana semata-mata kesenangan
akan selalu bergantung pada situasi dan orang lain (=orang tua).
Pada masa
muda, kepekaan terhadap lingkungan menjadi tuntutan dan mulai tumbuh rasa
toleran, baik untuk sekadar menjadi
bagian komunitas maupun berupaya menjadi orang yang berpengaruh di dalam
lingkungan (Hurlock, 1996). Nah, pada titik itu segala upaya anak muda selalu
berorientasi pada kreatifitas yang tak mau dibatasi, alias kebebasan, bebas berekspresi,
bebas mencari komunitas dan teman, bebas menentukan hidup dan arah, serta bebas
untuk mempertahankan apa yang ada.
Dunia
mahasiswa jelas berbeda dengan dunia di kala masih berstatus SMA, kita
diberikan otonomi akademik, hal ini diharapkan dapat membangkitkan kemandirian
dalam segala aspek, termasuk di dalamnya mandiri dalam mengelola (=manajemen)
segala yang ada di dalam diri dan juga lingkungan.
Pola hidup
yang mandiri dan penuh ekspresi ini seringkali ditanggapi berbeda oleh para
muda –mudi; mandiri diartikan harus bebas dari pantauan orang tua dan bebas
dari aturan-aturan kaku yang ada.
Mahasiswa
yang notabene warga akademis/warga
kampus membutuhkan segala peraturan atau rel yang mengaturnya. Kampus memiliki
visi, misi, tujuan, dan program yang berorientasi peningkatan kemampuan warga
kampus, tentu pula mahasiswanya, apalagi dalam strata akademis,kampus adalah
jenjang pendidikan tertinggi. Perlu diingat bahwa. Kampus bukan penentu tunggal
masa depan kita, hanya saja kampus dapat sebagai media pembentuk karakter dan
potensi diri generasi. Nasib masa depan tetap berada di tangan Mahasiswa.
Sukses atau gagal mahasiwalah yang menentukannya.
Mari kita
simak sepenggal lagu wajib prosesi penyambutan para mahasiswa baru di
kampus-kampus, berikut ini dan
perhatikan lirik dan maksudnya:
|
Latin
|
Indonesia
|
|
Gaudeamus
igitur
Juvenes dum sumus. Post jucundam juventutem Post molestam senectutem Nos habebit humus. |
Mari kita
bersenang-senang
Selagi masih muda. Setelah masa muda yang penuh keceriaan Setelah masa tua yang penuh kesukaran Tanah akan menguasai kita. |
|
Vivat
academia!
Vivant professores! Vivat membrum quod libet Vivant membra quae libet Semper sint in flore. |
Panjang
umur akademi!
Panjang umur para pengajar! Panjang umur setiap pelajar! Panjang umur seluruh pelajar! Semoga mereka terus tumbuh berkembang! |
Dari lirik
ini sesungguhnya terbetik pesan kebebasan, namun perlu diperhatikan tetap dalam
bingkai kemauan untuk maju dengan penuh tanggungjawab.
Sewaktu kita
masih duduk di SMA seringkali ada pemikiran demikian; dengan bahasa
sederhananya adalah: “...kuliah itu
santai.. belajar dengan sesuka hati.”
Santai bukan Bebas tanpa kendali
Adalah benar
bahwa kuliah itu santai, tetapi santai yang dimaksudkan hanya tampak dari luar
seperti:
·
Tidak perlu
ke sekolah lebih pagi (ada kala kuliah mulai jam 8 kan? Atau lebih siang atau
sore, bayangkan jika di SMA yang dikejar-kejar waktu untuk apel,upacara. dan
pelajaran yang masuk lebih pagi misal jam 7 atau bahkan lebih pagi lagi);
·
Menggunakan pakaian
lebih bebas tidak melulu seragam (titik kebebasan ekspresi dan penonjolan
diri); sistem kuliah yang memberi kebebasan menentukan jumlah mata kuliah yang
akan diprogram; norma dan etika yang lebih longgar dibanding masa SMA (rambut
panjang; urakan; dan penampilan menjadi urutan pertama).
·
Dosen-dosen
yang lebih ramah,bersahabat, atau malah cuek dengan mahasiswa dibanding
guru-guru yang terlihat kaku, berpatroli, dan tegas.
Namun,
santai bukanlah bebas sebebas-bebasnya. Karena jika santai dianggap
sebagai kebebasan yang tak terbatas maka kehancuran buahnya, dan segenap
penghuni Sorga berkabung! Anak-anak Allah harus punya satu tujuan: Buat
penghuni Surga dan Allah bersorak dan tersenyum!!! (Bandingkan buku: Purpose Driven Life).
Godaan-godaan dalam diri mahasiswa
Disadari
kebebasan dan ‘kesantaian’ memicu banyaknya ruang untuk disusupi
penggoda-pencobaan. Berikut daftar godaan-godaan yang timbul masa mahasiswa
(menjadi pergumulan generasi ke generasi berikutnya).
1. Kebebasan untuk menggunakan waktu dengan tidak
terkendali (bebas dari disiplin)
2. Kebebasan mengelola harta dan uang (hedonis dan
konsumptif)
3. Kebebasan menjalin hubungan dengan siapa saja dan melabrak
aturan agama dan norma etis
4. Kebebasan berbicara dan berpendapat yang sering
berujung pada keangkuhan dn egosentris
5. Kebebasan menentukan arah hidup termasuk minat/jurusan
yang seringkali karena ikut-ikutan
6. Kebebasan untuk diperhatikan, diikuti, dan
didengarkan.
Lalu bagaimana respon mahasiswa yang adalah anak-anak
dan generasi muda Kristen?
Kita lihat petunjuk
Firman Tuhan
Pkh 11:9 :
bersukarialah.... ...’’pengadilan”
Pengadilan Allah telah menanti,
olehnya dibutuhkan hikmat dalam masa muda dan bijaksana dalam masa –masa
kebebasan itu.
Pkh 12:1; Ingatlah
akan Penciptamu!!...
Dalam ruang berekspresi sesungguhnya
hendaklah diikuti akan perhatian (dan ingatan tentunya) akan Tuhan selaku
Pencipta kita, pencipta segala kondisi dan keadaan termasuk diri kita.
Rasul Paulus menyampaikan pesan
kepada Titus untuk fokus juga pada anak muda
dalam Titus 2: 6; nasehati agar
mampu menguasai diri
Prinsip dari kebebasan sesuai Firman
Tuhan hendaknya adalah kebebasan yang bertanggungjawab. Bertanggungjawab
menguasai hawa nafsu dan keinginan bebas.
2 Tim 2:22: Sebab
itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai
bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.
Selain
mengekang kehendak bebas dan hawa nafsunya, diharapkan mampu menegakkan
keadilan, kesetiaan, kasih, dan persekutuan dengan orang percaya.
Segala bentuk kemandirian yang diharapkan timbul dalam
diri mahasiswa haruslah dimaksimalkan dengan rasa tanggungjawab, seperti
kemandirian untuk menentukan arah dan tujuan hidup termasuk jurusan dan bagian
ilmu haruslah dibarengi untuk memuliakan Tuhan, mahasiswa yang menjadi generasi
pelanjut haruslah selalu berpikir bahwa jurusan yang ditekuninya ditujukan untuk
pelayanan dan semata-mata menjadi media.
Waktu yang ada dan diberikan seluas-luasnya baik dari
orang tua ataupun keluarga, jangan dibawa ke arah pemuasan keinginan untuk
lepas dan liar. Mahasiswa yang tidak ditanamkan jiwa kemandirian
bertanggungjawab biasanya ketika masuk di bangku perkuliahan akan cenderung
liar dan memberontak pada kekakuan disiplin kehidupan termasuk kuliah dan
aturan lain.
Efesus 5:16;
..dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.
Teman, lingkungan, dan pergaulan juga memiliki
konsekwensi berat jika kita salah memilih, karena begitu banyak penelitian dan
pengalaman bahwa faktor ini turut memperburuk kemandirian yang diberikan di
kalangan mahasiswa. Pergaulan bebas ke arah hubungan seksual, narkoba, dan perjudian
serta kemabukkan menggiring masa depan anak muda dan mahasiswa ke kegelapan dan
kesuraman. Ketiadaan pegangan hidup dan kecenderungan untuk berontak pada
setiap norma yang ada, dan sesungguhnya berisiko ketika menjadi bagian dalam
pelayanan dan pemerintahan, karena akan cenderung permisif pada kehendak bebas
dan keinginan-keinginan duniawi dibandingkan kemurnian kehendak Allah, bukan
tidak mungkin inilah kondisi yang saat ini dihadapi negeri ini....
I Kor 15:33 ; janganlah kamu sesat:
Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.
Pada dasarnya Tuhan telah mengingatkan kita semua
untuk bijaksana dan bertanggungjawab pada segala bentuk kebebasan yang ada,
seperti Firman Tuhan tadi.
Janganlah
kebiasaan yang baik dihancurkan karena ketidak tegasan dalam memilih teman
bergaul, kurang memiliki keberanian berkata tidak pada bentuk-bentuk pergaulan
yang tidak sehat.
Ketegasan
kita terhadap segala bentuk penyesatan dan pergaulan buruk tentu mendatangkan
Kasih dan Rahmat dari Allah, Roh Kudus akan selalu menjadi ‘body guard’ kita
dari dalam hati, hanya saja ditentukan pula ketegasan kita untuk melawan segala
bentuk tipuan iblis.
Yak 4:7; Karena itu tunduklah kepada Allah dan
lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu.
Pada godaan
seksual kita perlu meneladani Yusuf dalam Kisahnya dengan isteri Potifar, yaitu
berlari menjauhi (Kej 39:13)
Jika
kebebasan-kebebasan yang kita peroleh dan diberikan oleh keluarga dan orangtua
kita mampu pertanggungjawabkan maka tangga kesuksesan dan keberhasilan menjadi
hak kita dan anak cucu kita, sebab Allah akan memberkati kita (Maz 103:17-18)
Dunia saat
ini menghadapi krisis keteladanan dan tokoh yang layak dianut, bukanlah hal
yang sukar apabila generasi muda dua puluh atau tiga puluhan tahun lalu mampu
mengekang segala hawa nafsu dan kebebasan liar yang ada; olehnya generasi muda
saat ini harus tampil menjadi generasi harapan dengan mampu menjadi teladan
(dalam kata-tingkah laku-kasih-kesetiaan-kesucian) masa kini dan bakal menjadi
teladan masa depan (I Tim 4:12).
Penutup
Mahasiswa
Kristen sebagai generasi muda Kristen tidak lepas dari berbagai godaan dan
kebebasan liar, akan tetapi hikmat dan Roh Tuhan akan senantiasa menyertai jika
kita menyediakan ruang untuk itu sambil
berseru dan bersama orang-orang percaya, setia pada Perkataan dan Firman
Tuhan dan melawan segala godaan dengan tegas dan jika pernah gagal kembali pada
Tuhan segera dan tidak putus asa mengharapkan janji-janji Tuhan sembari
berusaha menjadi yang terbaik dan menjadi teladan dalam segala aspek.
Tidak
ada yang mustahil jika bersama dengan Tuhan, dan Kesejahteraan dan berkat
melimpah disediakan oleh Tuhan.
*) Disampaikan pada Ibadat PB PMK FMIPA Undana 09
Maret 2013
No comments:
Post a Comment