Saturday, May 16, 2009

caleg pohon (mengawal pileg 09-,opini timex)

SEHATKAH PILIHAN ANDA?
(Refleksi Atas Para CALEG Pohon)
Oleh : Yendris K. Syamruth, S.KM., M.Kes*)

Euforia pemilihan umum (pemilu) menjadi semakin hangat di detik-detik adventus pesta demokrasi yang menyisakan dua pekan lagi, khususnya bagi kita konstituen (konsumen pemilu). Kehangatan pesta itu membuncah menyisakan sebuah pertanyaan cukup menegangkan. Bagaimana dan siapa yang berhasil menduduki ‘kursi panas’ wakil rakyat di negeri ini kelak?
Poster, sticker, dan baliho (banner), baik dalam ukuran kecil hingga berukuran raksasa tersaji menyemarakan suasana penuh aroma kompetisi ini, yang serta merta menimbulkan sebuah persepsi baru di tengah situasi penuh dengan janji dan aroma kompetisi, yaitu persepsi akan seronoknya kota. Terlepas dari itu, Penulis mengajak kepada semua konsumen politik dalam pemilu untuk mengedepankan cita rasa konsumen yang tulus berdasar nurani dalam mencicipi ‘aroma dan makanan’ yang akan dan sementara disajikan kepada kita.
Hemat Penulis, berhati-hatilah karena dapat saja makanan politis itu tidak sehat, kadaluarsa ataupun mengandung racun mematikan. Lihat saja pada indikasi dan pelabelan yang disajikan para Calon Anggota Legislatif (Caleg). Apakah para calon tertib dan beretika dalam melabelisasi diri melalui atribut dan baliho?Apakah para caleg itu benar-benar sehat dan menyayangi alam sekitar termasuk pohon-pohon pelindung, yang mungkin saja usia pohon itu seumuran bahkan lebih daripada usia caleg itu sendiri?
Memang menarik dan menjadi sebuah tren untuk pemilu kali ini, dengan semaraknya pelabelan diri lewat banner yang dengan sengaja ditempelkan pada tempat-tempat strategis, termasuk pohon pelindung. Pohon yang menjadi tumpuan reduksi zat karbon.
Pohon pada dasarnya adalah organisme yang secara langsung tumbuh dan hidup dan merupakan tanggungjawab penghuni bumi untuk melindunginya, termasuk perkembangannya dengan tidak membiarkan tumbuh semrawut, tidak menancapkan paku pada batangnya untuk melakukan promosi, tidak mengelupasi kulit batangnya dengan serampangan (kecuali untuk ramuan obat). Bahkan, jika dirasa perlu pohon-pohon diberikan label (biasanya dalam bahasa latin) untuk menjadi pengenal bahwa pohon tersebut bernama atau memiliki identitas.
Sayangnya, yang terjadi dan menjadi amatan Penulis saat ini, pohon-pohon di kota ini telah dilabelisasi menjadi ‘Pohon CALEG’ dengan embel-embel atribut politis lainnya. Pohon yang biasanya dilabelisasi dengan istilah tatanama ilmiah (nomenklatur binomial) temuan Carolus Linaeus, berubah nama menjadi POHON CALEG beridentitas politis berikut gambar diri dari pohon tersebut dihiasi janji-janji pemanis. Seakan menggelitik kita, bahwa apakah nama pohon ini sudah berubah dari seharusnya Angsana, Jati, Mahoni, Gamal, Akasia, Lamtoro, lalu menjadi Si-A, Si-B, Si-C lengkap dengan daerah pemilihan, daftar nomor urut, dan gombalisasi lain. Sebuah ironi di tengah menghangatnya semangat menghijaukan Kota Karang ini. Pohon Caleg sekarang ramai ditanam menjadi komoditi, entah kapan paku-paku itu terus menancapinya, lalu berapa waktu kemudian teroksidasi dan paku itu berkarat lalu menjadi titik mula pembusukkan batang, yang dapat saja mematikan Si-Pohon itu. Pohon yang mendermakan oksigen bagi umat manusia, tanpa kecuali si-Caleg yang bertengger di batangnya. Lalu ketika pohon yang benar-benar itu mati apakah Si-Pohon Caleg mampu menggantinya lewat fungsi budgetting di kursi-kursi yang diperebutkannya? Sederhananya, Pohon Caleg dapat saja berubah menjadi CALEG Pohon, dimana caleg yang hanya mau di ‘atas’ pohon dan tidak mau turun melihat lingkungan riil tempatnya tumbuh dan mengakar. Yah, semoga konsumen politis mencermatinya dengan bijak. Perusak alam kok dipilih?
Sebagai praktisi, kami melihat banyaknya perusakan yang terjadi karena ketidaktahuan dan ketidaktegasan pihak terkait. Aturan pengawasan tentang tatacara labelisasi dan promosi diri jelas ada, namun pihak-pihak yang terkait seakan menutup mata dan menganggapnya sepele dan lazim, lazim sampai pohon-pohon tumbang atau mati. Di tangan konsumen pemilulah semua kembali.
Sedikit bergeser, hal terpenting pula yaitu apakah dalam benak dan rasio para Caleg (termasuk Caleg POHON) benar-benar mengerti senyatanya proses yang akan dan harus dilakukan di ’kursi-kursi panas’ yang hari ini mereka kompetisikan? Berkaca pada pengalaman-pengalaman lalu, di beberapa daerah dijumpai bahwa persoalan kemasyarakatan berikut tataaturan legislatif, lalulintas fungsi dan kewajiban, barulah Caleg sadari dan ketahui serta dipelajari ketika Caleg tersebut sudah berada di dalam legislatif, bukan jauh-jauh hari ketika niat menjadi caleg terakomodir. Sehingga, yang kerap terjadi adalah konflik kepentingan yang berakar dari ketidaksiapan dan ketidaktahuan mengenai apa yang menjadi fungsi, wewenang, dan tanggungjawab kepada konstituennya setelah ia duduk menjadi anggota legislatif. Hal ini yang menjadi biangnya. Bahkan, parahnya lagi banyak caleg yang duduk pada komisi yang tidak sesuai dengan kompetensi keilmuannya. Pada akhirnya, ketika ekskutif menyodorkan program, yang terjadi politisasi yang terpolitisir dan biasa dikenal politik ’dagang sapi’ ataupun arogansi status. Hal ini, menjadi jawaban atas fakta dan harapan konstituen dewasa ini bahwa seharusnya Caleg bisa lebih baik. Yang menjadi pertanyaan siapa yang membekali para caleg? Langit di atas sana seakan menanti sebuah perubahan untuk NTT lebih sejahtera ke depannya.
Kepada siapapun yang menjadi konsumen politik, kecap dan lihatlah betapa baiknya Caleg yang tidak merusak pohon sebagai lingkungan yang mentransformasi karbon (CO2)menjadi oksigen (O2) yang bersama kita hirup tanpa pandang status. Pilihlah Caleg yang sayang konstituen, pilihlah caleg yang sayang pohon, tetapi hati-hati memilih caleg pohon yang awalnya melabelisasi diri menjadi Pohon Caleg.
Selamat mengkonsumsi janji dan propaganda dan berhati-hatilah mencontreng, jangan mencoreng nasib anak cucu dan generasi kita, yang juga masih butuh oksigen!

No comments: